side-area-logo

Hear Art Blog Competition Winner: Sapti Nurul Hidayati

Hear Art Blog Competition Winner: Sapti Nurul Hidayati

The author, Sapti Nurul Hidayati, won second place on the Hear Art Blog Competition. The original article is posted on https://www.kompasiana.com/saptinurulh/5abc17885e13737aab683f72/gaia-art-movement-hear-art-event-yang-mengajak-masyarakat-mendengar-dan-merasakan-seni-melalui-hati/. This post has been reproduced with permission from the author. All copyrights belong to the author.

 

“Hear Art”, Acara yang Mengajak Masyarakat Mendengar dan Memahami Seni melalui Hati

 

Mas Apri sedang menjelaskan tentang karyanya (doc : Riana Dewi)

 

Bagi seorang perupa, seni adalah curahan ide atau gagasan yang menjelma menjadi sebuah karya. Dan ketika karya tersebut dipamerkan kepada masyarakat luas, terjadilah suatu interaksi antara audiens dan karya seni itu sendiri. Dimana sebuah karya seni akan dinikmati, diamati, dan diapresiasi, sehingga timbullah proses komunikasi.

Dalam menikmati sebuah karya seni, mengikuti perjalanan proses kreatif dari perupanya akan membuat kita semakin menghargai nilai dan keberadaan sebuah karya.

Tidak semata mengagumi keindahannya secara visual, tetapi juga memahami konsep dan filosofi dari penciptaan karya itu sendiri yang pasti sangat menginspirasi.

***

Sabtu siang tanggal 24 Maret 2018. Saya dan beberapa teman dari kompasiana Jogja diundang untuk menghadiri suatu acara seni bertajuk Hear Art (Heart) di Hotel Gaia Cosmo yang berlokasi di Jalan Ipda Tut Harsono Yogyakarta.

Acara yang digelar oleh Gaia Art Movement bekerjasama dengan Benda Art Management ini merupakan kelanjutan dari pameran seni bertajuk Rooted in Art : Lasting Footprint yang dilaksanakan tahun 2017 lalu.

Gaia Art Movement adalah suatu program yang ditujukan sebagai wadah untuk menginterpretasikan kreasi, karya dan inspirasi yang memiliki misi untuk mensupport kesenian lokal beserta talenta-talentanya.

Berbeda konsep dengan event Rooted in Art : Lasting Footprint yang lebih menekankan kepada pengenalan dan publikasi dari karya instalasi yang dihasilkan oleh 5 perupa lokal yang tergabung dalam Benda Art Management, maka dalam kegiatan seni bertajuk Heart ini kami diajak untuk lebih mendalami dan memahami seni sehingga dapat lebih mengapresiasi karya seni yang dihasilkan tidak hanya melalui mata, tetapi juga melalui “rasa”.

Sebagaimana diketahui Gaia Cosmo Hotel melalui Gaia Art Movement bekerja sama dengan 5 perupa lokal untuk membuat 5 karya instalasi bertema “alam”. Hal tersebut sejalan dengan nama Gaia yang dalam mitos Yunani berarti ibu bumi.

Karya-karya dari perupa Derry Pratama, Apri Susanto, Dedy Shofianto, Ivan Bestari, dan Ludira Yudha yang telah dipamerkan kepada publik sejak 19 November 2017 ini kembali dibahas lebih mendalam melalui kegiatan ini.

Dalam event yang dilaksanakan pada tanggal 24 Maret 2018 pukul 10.00 – 18.00 WIB ini diselenggarakan berbagai acara yang diharapkan dapat lebih membuka wawasan masyarakat mengenai seni secara menyeluruh agar masyarakat dapat mengapresiasi seni tidak hanya secara visual semata.

Aneka kegiatan yang dilaksanakan dalam event Heart ini diantaranya adalah kegiatan artist talk, workshop, hotel design and art tour, dan expert discussion.

 

Artist Talk

Dalam sessi artist talk, para peserta dapat mengenal lebih dekat para perupa sekaligus mendengarkan aneka kisah perjalanan kreatif dari mereka dalam menghasilkan karyanya.

Bagaimana mereka menemukan ide, pesan dan gagasan yang ingin disampaikan, aneka hambatan dan kesulitan yang mereka jumpai, semua dikupas dan menjadi kisah yang sungguh menginspirasi. Dan semua coba saya rangkum di sini..

Adalah Apri Susanto, perupa yang menghasilkan karya yang dipajang di area swimming pool. Karya dengan material keramik berupa roda warna-warni yang tersusun dalam bilahan kawat logam. Karya berjudul The Flow of Life ini menggambarkan dinamika hidup manusia yang berbeda-beda, berwarna-warni dan selalu berputar, itulah roda kehidupan.

Bagaimana kesungguhan dan kerja keras Apri dalam membuat ratusan roda keramik dan membuatnya terpajang rapi dan menyatu dengan suasana kolam tentu tidak perlu diragukan lagi. Karya instalasi tersebut telah menyulap suasana kolam yang tadinya hampa menjadi berwarna. Ya, begitulah seni, yang kehadirannya selalu meninggalkan rasa bagi yang melihatnya.

Selanjutnya Derry Pratama.  Karyanya berupa susunan bantal metal setinggi 7 meter tersebut diberi judul 778540 LK. Terbuat dari logam yang dibentuk seperti bantal sofa. Efek warna yang ada pada bantal metal itu bukan hasil dari pewarnaan biasa. Namun berasal dari teknik pembakaran yang dilakukan dengan mengolesi bantal metal dengan minyak goreng dan membakarnya pada bagian sisi belakangnya. Sehingga hasilnya adalah warna yang unik dan natural. Instalasi bantal metal ini berada di bagian hotel paling depan, tepatnya di bagian smoking area dari restoran Gaia Cosmo.

Instalasi bantal metal (doc : Riana Dewi)

 

Saya kebetulan berkesempatan lama untuk mengamatinya ketika sedang santap siang di Semeja Resto. Menikmati sajian lezat nasi goreng nanas sambil menikmati view yang unik memang menjadi pengalaman menarik.

Makan siang di Semeja Resto (doc : Riana Dewi)

 

Ide pembuatan bantal metal ini merupakan respon dari sang perupa atas menjamurnya bangunan-bangunan besar di kota Jogja yang kurang tertata sehingga berdampak kurang baik bagi masyarakat sekitarnya. Misalnya pengaruh dari segi kualitas air tanahnya.

Unknown Organik Object No.3 adalah karya milik Ludira Yudha yang juga cukup menarik untuk dicermati. Karya yang dibuat dengan menggunakan media kawat yang dibuat bergelung membentuk bulatan-bulatan seperti umbi pada akar.

Konon dalam perjalanan kreatifnya, sang perupa memang terinspirasi dari umbi akar dari rerumputan yang biasa dicabutnya. Menghabiskan kawat seberat 200 kg yang jika dibentangkan panjangnya sejauh Jogja dan Solo, kerja keras berbulan-bulan dari sang perupa sangat pantas kita apresiasi. Karya ini bisa kita nikmati di area lobi, di dinding atas dari pintu keluar menuju kolam renang.

Unknown Organic Object No 3 (doc : pri)

 

Karya ini melambangkan keterbatasan manusia dalam memahami dan meraih segala sesuatu yang ada di dunia. Bahwa semua itu ada batasnya. Tidak perlu kita ngoyo..cukup bersinergi dengan alam saja.

Cerita dari Dedy Shofianto juga menarik. Karya seni yang dibuatnya cukup unik. Menampilkan perpaduan antara seni dan teknologi. Instalasi seni yang dipajang di ruangan bagian atas dari lobi hotel ini berbentuk angsa dan awan dari kayu yang memiliki respon terhadap getaran. Sehingga dia mampu bergerak mengepakkan sayap tatkala ada gerakan atau getaran di sekitarnya. Keberadaannya di Gaia Cosmo Hotel menambah spot-spot unik yang instagramable untuk berfoto.

Migration (doc : Riana Dewi)

 

Cerita unik lainnya datang dari seniman Ivan Bestari. Karyanya berjudul it grows yang terbuat dari bekas botol kaca milik Gaia cosmo yang diubah menjadi sebuah karya seni yang cantik dan menarik. Saat ini karyanya terpajang dengan apik di lantai M, dekat dengan ruang meeting di Gaia Cosmo yang bernuansa city.

It grows (doc : Riana Dewi)

 

Melalui karyanya, Ivan Bestari seolah ingin menyampaikan bahwa segala sesuatu di dunia ini idealnya bertumbuh, tumbuh dan berubah ke arah yang lebih baik. Tidak statis.

 

Workshop Artist

Untuk melengkapi aneka cerita seru dari para perupa, dilaksanakan juga aneka workshop yang bisa diikuti oleh peserta. Dalam workshop ini para peserta akan melihat dan juga mencoba membuat aneka benda dengan material yang sama dengan digunakan para perupa dalam menghasilkan karyanya.

Work shop membuat aneka bentuk dari kawat dipandu oleh mas Ludira Yudha (doc.pri)

Workshop membuat sesuatu dari kaca dipandu mas Ivan Bestari (doc.pri)

Foto di atas adalah dua kegiatan workshop yang sempat saya abadikan melalui kamera ponsel saya.

Melalui workshop, diharapkan para peserta semakin paham bahwa proses kreatif suatu karya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada tetesan keringat dan bahkan mungkin air mata dalam proses pengerjaannya.

Sehingga kembali lagi, bahwa karya seni tidak semata sebagai pemuas indra mata, tapi juga merupakan representasi dan jawaban atas pertanyaan yang berkecamuk di dalam jiwa masing-masing perupa.

 

Hotel Design dan Art Tour

Selain diajak mencermati 5 karya seni instalasi yang dihasilkan oleh para perupanya, para peserta Heart juga diajak mengenal lebih dekat desain dan interior Gaia cosmo hotel.

Mulai dari lobi, sampai ke kamar-kamarnya, termasuk juga meeting roomnya. Sesuai dengan namanya yang berarti bumi, maka dalam desainnya, Gaia Cosmo mengusung konsep alam.

Konsep tersebut kemudian dikembangkan untuk membawa budaya lokal khususnya Jogja ke dalam desain dan atmosfer hotel dengan memasukan unsur gamelan, joglo, batik parang, dan banyak lainnya. Termasuk juga dalam pemilihan warna, Gaia Cosmo banyak memilih warna-warna netral seperti hitam, abu, dan kuning.

Unsur gamelan tampak pada interior bagian dalam lobi dimana terdapat hiasan pada dinding yang terbuat dari kayu berupa garis-garis yang kadang dibuat dengan jarak dekat, kadang jauh. Sebagaimana bunyi gamelan yang kadang cepat kadang lambat.

 

Penjelasan tentang hiasan kayu di bagian belakang yang menggunakan konsep gamelan (doc. Riana Dewi)

Yang menarik di Gaia Cosmo adalah lobinya yang menyatu dengan coffee lounge dan resto. Pembatas yang ada sengaja dibuat terbuka sehingga para tamu yang sedang duduk di lobi dapat melihat aktifitas di dalam resto, termasuk mencium aroma wangi kopi yang tengah diseduh.

 

Aroma kopi menguar dari sini (doc. Riana Dewi)

Untuk roomnya, keunikan tampak dari atapnya yang menggunakan atap joglo sehingga memberi kesan lega dan nyaman. Selain itu yang beda dari Gaia Cosmo adalah di setiap kamar antara shower room, toilet, dan wastafel letaknya terpisah.

Secara umum desain ruang dan interior Gaia Cosmo cukup memberikan rasa nyaman kepada para tamunya melalui desain, fasilitas, dan layanan hotel yang berkelas dan memadukan konsep modern tradisional yang mewakili karakter Jogja yang istimewa yang akan membuat para tamu memiliki kesan mendalam yang sukar untuk dilupakan.

 

Expert discussion

Merupakan acara terakhir dari rangkaian kegiatan Heart. Menampilkan pembicara yang kompeten di bidangnya diantaranya Alfin Tjitrowiryo pendiri Alfin -T, R.M. Cahyo Bandhono selaku arsitek Amanjiwo, Asmudjo J Irianto seorang dosen senior ITB dan pengamat seni terkemuka, serta Setya Bramantyo pendiri dari Benda Art Management.

Para pembicara dalam expert discussion (doc : Riana Dewi)

 

Diskusi ini dimoderatori oleh seorang penulis dan kurator seni, Ignatia Nilu. Dalam diskusi ini, para narasumber banyak bercerita tentang pengaruh seni dalam desain bangunan-bangunan di area publik saat ini. Dimana saat ini terdapat kecenderungan bahwa bangunan atau suatu benda tidak lagi hanya mengedepankan fungsinya saja. Namun lebih jauh juga mempertimbangkan aspek estetika dari bangunan atau benda itu sendiri yang membutuhkan sentuhan seni. Seni akan membuat sesuatu hal menjadi bersifat universal sehingga bisa dinikmati dan diterima berbagai kalangan.

dok: pri

 

Contohnya desain dan penataan di area gereja Ganjuran yang justru tidak terlalu mengesankan suasana tempat peribadatan sehingga membuat orang yang berbeda kepercayaan tidak sungkan untuk datang sekedar menikmati suasana yang ada.

Itulah salah satu fungsi dari sentuhan seni dalam desain interior maupun eksterior, membuat sesuatu menjadi tidak kaku dan seolah memberi “nyawa” agar dapat menyatu dengan sekelilingnya.

Hal ini yang memberi banyak peluang dan juga tantangan kepada para perupa untuk mengeksplor kreatifitas dan meningkatkan kapasitasnya.


Chris