Save Street Child Jogja Menyelamatkan Masa Depan Anak Jalanan Lewat Pendidikan

 
 
 

Sebagaimana kota besar lainnya, Jogja tak lepas dari persoalan sosial dengan maraknya anak jalanan. Pandangan umum masyarakat melihat mereka dengan stigma negatif, seperti anak nakal, tak punya aturan, pengamen, pengemis, dan kotor. Kebanyakan orang hanya punya tiga pilihan, memberi uang, mengabaikannya, atau malah ada juga yang memaki.

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA_1

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA_1

Padahal, mereka mencari penghidupan di jalanan bukan karena pilihan, melainkan situasi yang tak bisa dihindari. Banyak dari mereka adalah anak telantar korban dari broken home, korban kekerasan dalam rumah tangga, terhimpit kemiskinan, dan juga korban eksploitasi anak. Nah, seharusnya mereka ini berhak mendapat perlindungan dan bantuan.

Beruntungnya, di kota ini banyak relawan dan pekerja sosial yang peduli terhadap masa depan kelompok anak yang kurang beruntung itu. Mereka tergabung dalam Save Street Child (SSChild) Jogja, komunitas sosial berbasis Hak Asasi Manusia (HAM) yang khusus memberikan perlindungan hak-hak anak jalanan, anak telantar, anak marjinal – anak dari orang tua yang menggantungkan hidupnya di jalanan – dan anak dari keluarga miskin.

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA_2

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA_2

Baca juga: Komunitas-Komunitas Anak Muda yang Menghidupi Jogja

SSChild Jogja bekerja untuk "memanusiakan" anak jalanan dengan fokus utama pendampingan, pendidikan, dan kesehatan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Komunitas ini juga berkampanye mengajak masyarakat peduli pada persoalan anak jalanan, salah satunya dengan cara bergabung menjadi relawan.

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA_4

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA_4

Jika Anda punya waktu luang dua jam seminggu, bersedia bekerja di lapangan, dan menyukai anak-anak, bisa kok bergabung menjadi relawan. Komunitas ini secara rutin mengadakan open recruitment. Anda bisa menyimak linimasa Twitter @SSChildJogja untuk mengetahui kegiatan mereka.

Memberi Uang pada Anak Jalanan Bukan Solusi

Bila Anda ingin berbagi apa saja, mulai dari buku, alat tulis, tas, pakaian, sepatu, dan barang-barang yang berguna untuk anak-anak, komunitas ini juga menerima donasi. Tetapi, satu hal yang seharusnya tak Anda lakukan kepada anak jalanan, yaitu memberikan uang.

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA_5

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA_5

“Memberi uang bukan solusi berkelanjutan, bahkan bisa membuat anak menjadi bergantung pada pemberian. Mereka yang sebenarnya punya potensi untuk berdaya malah terjebak berharap pada belas kasih orang,” kata Ahmad Syaifuddin, aktivis sosial yang bekerja untuk SSChild Jogja sejak 2013.

Komunitas ini dibentuk oleh sekelompok mahasiswa di Jogja pada Agustus 2011 atas ide Aris Setyawan, seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang terinspirasi oleh Save Street Child di Jakarta. Anggota komunitas ini kemudian berkembang dengan masuknya relawan-relawan baru.

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA_6

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA_6

Pada awal berdirinya, SCChild Jogja punya program Ngamen Bareng Anak Jalanan, sebelum akhirnya fokus pada kegiatan belajar baca-tulis dan hitung. Selain itu, mereka juga mendorong anak jalanan untuk kembali ke sekolah formal atau lewat Kejar Paket A bagi yang putus sekolah.

Komunitas yang beranggotakan anak-anak muda ini memberikan kelas belajar untuk puluhan anak jalanan di Tegalmojo, Badran, Mangkubumi, dan Maguwo. Setiap minggu, SSChild Jogja memiliki program Paket Susu Gratis (PakSutris) dengan membagikan susu kepada anak jalanan untuk membantu meningkatkan gizi mereka.

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA_7

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA_7

Anak jalanan merupakan kelompok yang rentan kekerasan dan eksploitasi meskipun kebanyakan tampak menikmati kehidupan mereka dengan dandanan sebagai anak punk atau anak hip-hop. Sebagian besar pernah mengalami kekerasan, baik secara verbal maupun fisik, sehingga mereka sangat membutuhkan rasa aman yang tidak mereka peroleh di jalanan.

Karenanya, SSChild Jogja berusaha untuk memberikan perlindungan dengan mewadahi anak jalanan di shelter. Komunitas ini juga melakukan advokasi dengan menolak Peraturan Daerah tentang Gelandangan dan Pengemis, yang memasukkan anak jalanan ke camp pembinaan yang dianggap kurang memerhatikan hak-hak asasi anak.

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA

SAVE_STREET_CHILD_JOGJA

Untuk mendanai semua kegiatannya, selain membuka lapak Garage Sale
pakaian di Sunday Morning UGM, para relawan mengumpulkan botol plastik bekas dari donasi orang-orang, kemudian mereka jual ke pengepul untuk dijual kembali ke pabrik daur ulang plastik. Jadi, sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui kan? Membantu manusia sekaligus lingkungan.

Foto: Twitter @SSChildJogja

 
 

RELATED ARTICLES