BAKABA#6, Perupa Minang Membaca Wajah Indonesia Kontemporer

 
 
 

Pameran BAKABA #6 yang digelar Sakato Art Community sampai awal Juni 2017 di Jogja Gallery mengenalkan publik pada seniman-seniman asal Sumatra Barat.

Sumatera Barat, tempat lahirnya para pendiri negara ini, mulai dari Mohamad Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, hingga Tan Malaka, ternyata juga memberi sumbangsih yang besar dalam pembentukan dunia seni rupa Indonesia.

Dari ranah Minang inilah lahir nama Wakidi, salah seorang seniman besar pada era kolonial Belanda. Berdarah Jawa, Wakidi yang lahir di Plaju, Sumatra Selatan pada 1889, belajar tenik menggambar dan memulai karier seninya di tanah Minang. Ia terkenal melalui lukisannya berjudul Mountain Landscape yang menampilkan "Mooi Indie" alias Hindia yang molek.

Bentang alam dataran Minang yang indah dengan ngarainya yang berkelok-kelok menjadi objek lukisan Wakidi. Ia adalah pencetus aliran naturalisik setelah Raden Saleh. Gaya inilah yang kemudian yang diikuti oleh para perupa generasi berikutnya, tidak hanya di Sumatra tapi juga di seluruh Nusantara.

THE_EELEPTICAL_SENTECES__THARIQMUNTAHA.JPG

THE_EELEPTICAL_SENTECES__THARIQMUNTAHA.JPG

Hingga kini, aliran naturalistik masih diteruskan dan menjadi ciri khas sejumlah perupa dari Sumatra Barat. Salah satunya adalah M. Ridwan. Melalui lukisannya yang berjudul Landscape Mooi Indie, kita bisa menyaksikan keindahan alam pegunungan yang menghijau tampil dengan penuh realis.

Lukisan M Ridwan itu menjadi saah satu karya perupa Sumatra Barat yang ditampilkan pada Pameran BAKABA #6. Pameran yang digelar pada 18 Mei – 4 Juni 2017 ini adalah tradisi tahunan Sakato Art Community atau Komunitas Seni Sakato.

Seperti dibaca dari namanya, Sakato merupakan wadah perkumpulan para seniman Sumatra Barat. Mereka ingin merawat dan menjaga tradisi seni rupa yang sudah tumbuh di kalangan orang Minang sejak era kolonial Belanda, saat ini dan agar tetap hidup di masa mendatang.

Membawa spirit etnisitas, mereka justru membangun karier seni di kota yang menjadi jantung kebudayaan Indonesia: Yogyakarta. Di kota inilah Sakato Art Community berkembang menjadi komunitas yang kelak melahirkan seniman-seniman besar, yang diperhitungkan tidak saja oleh dunia seni rupa kontemporer Indonesia tapi juga internasional.

LAMBANG_NEGARA_INDONESIA_-_RUDI_MANTOFANI

LAMBANG_NEGARA_INDONESIA_-_RUDI_MANTOFANI

Sejak 2010, mereka secara konsisten menggelar BAKABA. “Bakaba sendiri artinya berkabar, lewat pameran ini kami ingin menyampaikan kabar, menyampaikan pesan,” ujar Ketua Panitia Dian Hardiansyah. Ini sekaligus menunjukkan kekuataan lain masyarakat Minang: tradisi bercerita dan budaya lisan yang kuat di sana.

Setiap tahun, mereka mengusung tema yang berbeda-beda sesuai dengan konteks sosial budaya politik yang sedang menjadi sorotan di masyarakat. Untuk tahun ini mereka membawa tema "indONEsia". Dian menjelaskan tema ini sangat relevan dengan kondisi sosial politik di Indonesia yang terus berkecamuk sejak awal tahun 2017.

Melalui proses kurasi yang ketat, sebanyak 70-an karya ditampilkan di pameran yang masuk dalam agenda Jogja Art Week. Tidak hanya lukisan, para perupa juga memajang karya patung, foto, seni grafis, dan juga keramik. Mereka juga mencoba berbagai kemungkinan teknik dan gaya.

Lihatlah misalnya karya Thariq Muntaha, The Eleptical Senteces. Generasi terbaru perupa muda Minang ini menampilkan karya yang tersusun dari benang di atas kanvas yang membentuk deretan tiga kepala perempuan berhijab. Lalu di bagian bawahnya membentuk paha, tungkai kaki bagian atas yang tersingkap. “Ini seperti kritik dan sindiran,” kata Dian.

Thariq adalah salah satu perupa yang membangun karier seninya di Padang, Sumatra Barat. Ia tampil bersama –sama dengan perupa lainnya yang sudah mempunyai nama seperti Rudi Mantofani, Handiwirman Saputra, Jumaldi Alfi, Yunizar, dan Yusra Martunus.

Rudi memamerkan karya di atas kanvas yang penuh dengan cat akrilik merah. Persis ditengah-tengahnya terdapat tulisan GARUDA PANCASILA dengan huruf G yang agak sedikit terlepas yang dipasang dengan metode penyepuhan emas (gold plating).

Rudi adalah perupa kontemporer yang masuk daftar Top 500 Artprice 2008/2009 atau 500 pelukis terlaris di dunia periode 2008-2009 yang disusun oleh lembaga analis perkembangan pasar seni rupa dunia yang berbasis di Paris, Prancis.

Dengan bahan fiber, Handiwirman menciptakan objek tiga dimensi laksana pohon raksasa yang dipangkas hingga hanya menyisakan bagian akar. Ini seperti menggambarkan nasib pohon di hutan-hutan kita yang setiap tahunnya ditebang dan kehidupan yang kering kerontang.

GARUDA_PANCASILA_KARYA_RUDI_MANTOFANI

GARUDA_PANCASILA_KARYA_RUDI_MANTOFANI

Karya Gusmen Heriadi yang berjudul Claim, menjadi Best Work dalam pemeran ini. Dalam lukisannya, Gusmen menampilkan seekor gajah dengan belalai panjang yang terpotong dan bagian ujungnya terperosok di dalam sebuah lubang besar yang menganga. “Ini menggambarkan masyarakat kita yang saling mengklaim dirinyalah yang paling benar,” ucap Dian.

 
 

RELATED ARTICLES