[Candi Borobudur] Menyaksikan Ribuan Lampion Terbang di Malam Waisak

 
 
 

Waisak di Candi Borobudur seolah menjadi puncak dari segala pesona yang dimiliki mahakarya dari abad ke-7 itu. Tri Suci Waisak yang merupakan ritual peringatan hari kelahiran, hari kematian, dan hari saat Sidharta Gautama memperoleh pencerahan di Bodhgaya, menjadikan Borobudur tak sekadar indah tapi juga sekaligus sakral. Sebagian lagi merasakan ada nuansa magis di sana.

Ritual yang penuh kesakralan inilah yang menjadi daya tarik sehingga wisatawan dari berbagai tempat datang, Nusantara maupun Mancanegara berbondong-bondong ke Borobudur. Di era kemajuan teknologi seperti sekarang, perayaan Waisak adalah sebuah episode yang membuat banyak orang mengingat kembali nilai- nilai abadi kala para biksu membaca mantra dan meditasi.

Tak hanya umat Buddha dari Indonesia yang datang dan merayakan Waisak, tapi juga pemeluk Buddha dari berbagai negara ikut membaca doa di Taman Lumbini Candi Borobudur. Berada dan bersama sama para Buddhis dan para biksu dan biksuni, Anda akan merasakan suasana megahnya keajaiban mandala yang ada di puncak Candi Borobudur.

Digelar tepat saat bulan purnama, kita bisa menyaksikan cahaya terang dari bulan menyinari deretan stupa di Candi Borobudur. Dan tentu saja, Anda perlu berdoa agar cuaca saat Waisak cerah dan tidak berawan, apalagi hujan.

WAISAK_2

WAISAK_2

Perayaan Waisak mempunyai tiga ritual inti, yakni pengambilan air dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung, kemudian pindapatta atau pemberian bahan makanan atau uang oleh umat kepada biksu dan biksuni, serta semedi pada detik-detik puncak bulan purnama.Puncak ritual di malam Waisak adalah pradaksina, atau ritual mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali.

Bagi para wisatawan, yang dinanti-nanti dari perayaan Waisak adalah pelepasan ribuan lampion ke angkasa. Sebenarnya, ini bukanlah pertunjukan untuk menarik wisatawan agar berkunjung ke Candi Borobudur. Pelepasan lampion ini masih satu rangkaian ibadah Waisak.

Baca juga: Intip Rekomendasi Destinasi Wisata Seru di Jogja Ala @yuayuyuk

Lampion adalah sebuah perlambang penyampaian doa dan harapan. Di setiap lampion, terpasang doa dan harapan. Kala lampion-lampion itu terbang menuju langit, rapalan doa akan bergema dari para biksu. Doa menjadi syarat bagi terbangnya lampion lampion itu.

WAISAK_3

WAISAK_3

Bagi Anda yang ingin menyaksikan perayaan Waisak, sebaiknya anda mengecek jauh jauh hari jadwal perayaan yang dirilis oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) melalui situs ini. Dari sana Anda dapat mengetahui jadwal dan perayaan Waisak, terutama jika Ada ingin menyaksikan pelepasan ribuan lampion.

Jadwal dan informasi ini penting, karena jika Anda datang ke Borobudur tepat pada hari H Waisak, justru tidak bisa. Sebabnya, jalan utama menuju Borobudur dari arah Yogyakarta akan ditutup menjelang sore hari.

Prosesi Waisak dimulai dari Candi Mendut yang berada di timur Borobudur. Air suci yang diambil dari Umbul Jumprit dan api dharma dari Mrapen, Grobogan Purwodadi, akan disakralkan di Candi Mendut, kemudian para biksu akan membawanya dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer melalui Candi Pawon. Untuk kemudian dipersembahkan di altar Candi Borobudur.

Yang harus Anda catat adalah, jika ingin ikut melepas lampion di pelataran Aksobya Candi Borobudur, anda sudah harus membeli lampion. Pada tahun 2017 ini, pengunjung diminta membayar Rp100 ribu per lampion untuk 4 orang. Anda bisa menempelkan kertas berisi doa atau cita-cita hidup yang ingin Anda wujudkan. Barsama lampion, doa dan cita cita itu akan membuat langit malam di atas Borobudur berpendar penuh cahaya.

LINK SUMBER:
Sumber foto
1. triptrus.com
2. citypost.id
3. tripvisto.com

 
 

RELATED ARTICLES