10 Candi Paling Populer untuk Wisata Spiritual saat Waisak

 
Perayaan-Waisak-di-Candi-Borobudur._Foto_via_myimage.id.jpg
 
 

Melewatkan Festival Waisak di Candi Borobudur kemarin itu? Nggak masalah, Anda bisa datang lagi tahun depan, dan bahkan bisa "mempersiapkan diri dengan bekal pengetahuan sejarah Nusantara lewat wisata candi di Jogja. Yuk, jelajahi situs-situs arkeologi peninggalan peradaban Budha yang pernah hidup di pusat pulau Jawa berikut ini:

WAISAK_DI_BOROBUDUR._FOTO_VIA_borobudurpark.com

WAISAK_DI_BOROBUDUR._FOTO_VIA_borobudurpark.com

1. Candi Borobudur

Candi Buddha terbesar di dunia yang tercatat sebagai UNESCO World Heritage Site ini merupakan destinasi wisata utama. Candi ini terletak di Magelang, sekitar 40 kilometer dari Jogja, dan dibangun abad ke-9 oleh wangsa Syailendra. Borobudur memiliki kekhasan stupa dengan arca Sang Buddha di dalamnya, yang membuat candi berbentuk limas bersusun ini tampak megah pada bagian puncaknya, apalagi saat sunrise.

BOROBUDUR._FOTO_VIA_pixabay.com

BOROBUDUR._FOTO_VIA_pixabay.com

Borobudur digunakan untuk perayaan Tri Suci Waisak selain Candi
Mendut. Ribuan lampion terbang dilepas ke udara tengah malam dan para biksu naik ke puncak candi untuk berdoa hingga menjelang terbit matahari.

STUPA_CANDI_BOROBUDUR._FOTO_VIA_pixabay.com

STUPA_CANDI_BOROBUDUR._FOTO_VIA_pixabay.com

Wisatawan boleh menyaksikan dari pelataran, asal ikut menjaga ketenangan agar tak mengganggu kelancaran ibadah. Sebaiknya datanglah siang hari menjelang sore, sebelum akses ke candi ditutup.

CANDI-MENDUT._FOTO_VIA_magelangonline.com

CANDI-MENDUT._FOTO_VIA_magelangonline.com

2. Candi Mendut

Candi yang berlokasi di Desa Mendut, Mungkid, Magelang ini juga dibangun abad ke-9 oleh wangsa Syailendra, namun diperkirakan lebih tua dari Borobudur. Candi ini juga merupakan tempat prosesi Waisak, di mana para biksu berdoa dan melakukan pradaksina – berjalan mengelilingi candi – sekaligus tempat bersemayamnya kendi-kendi air suci dan api darma. Sore harinya, para biksu akan berjalan kaki sejauh 3 kilometer dari Mendut, melintasi Candi Pawon, menuju Borobudur dengan membawa air suci. Anda boleh mengabadikan momen ini selama tidak mengganggu prosesi upacara.

CANDI-PAWON._FOTO_VIA_magelangonline.com

CANDI-PAWON._FOTO_VIA_magelangonline.com

3. Candi Pawon

Candi ini serangkai dengan Borobudur dan Mendut, karena ketiganya terletak berdekatan di satu garis lurus dan memiliki kemiripan pahatan. Candi ini merupakan tempat persemayaman abu jenazah Raja Indra (782-812 M) dari wangsa Syailendra yang dianggap sudah mencapai tataran Bodhisatwa – dengan ditemukan patung Bodhisatwa di dalam candi. Pawon berasal dari kata tempat awu (abu). Uniknya, candi ini berbentuk ramping, tak seperti candi Budha umumnya.

CANDI_SEWU._FOTO_VIA_indonesia-tourism.com

CANDI_SEWU._FOTO_VIA_indonesia-tourism.com

4. Candi Sewu

Candi Sewu terletak berdampingan dengan Candi Prambanan (Hindu). Bedanya, Sewu adalah candi Buddha yang dibangun abad ke-8 dan terbesar kedua setelah Borobudur. Namun kompleks candi ini merupakan yang paling luas di Indonesia. Candi Sewu sering dikaitkan dengan legenda Roro Jonggrang, yang meminta dibangunkan 1.000 candi dalam semalam sebagai syarat sebelum dinikahi Bandung Bondowoso. Meski namanya Sewu (seribu), jumlah candi ini hanya 249. Jika berkunjung ke sini, masuklah ke museumnya, yang akan memberikan Anda pengetahuan tentang pemugaran candi.

CANDI-LUMBUNG._FOTO_VIA_yogyakarta.panduanwisata.id

CANDI-LUMBUNG._FOTO_VIA_yogyakarta.panduanwisata.id

5. Candi Lumbung

Berdekatan dengan Candi Sewu, Candi Lumbung merupakan gugusan yang terdiri dari 17 bangunan batu yang menyerupai lumbung padi dengan puncaknya berbentuk stupa. Sama dengan Candi Sewu, candi ini dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Di kawasan wisata Candi Prambanan ini, Anda akan menyaksikan keharmonisan umat Hindu (wangsa Sanjaya) dan umat Buddha (wangsa Syailendra).

CANDI_PLAOSAN._FOTO_VIA_kebudayaan.kemdikbud.go.id

CANDI_PLAOSAN._FOTO_VIA_kebudayaan.kemdikbud.go.id

6. Candi Plaosan

Masih di Prambanan, tepatnya di Desa Bugisan, sekitar 1 kilomter dari Candi Sewu, kunjungi juga dua komplek candi kembar, Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Plaosan dibangun pada masa pemerintahan Mataram Kuno oleh Rakai Pikatan untuk istrinya Pramodha Wardhani yang beragama Buddha. Yang paling unik adalah reliefnya yang dipahat halus dan menggambarkan kisah cinta seorang laki-laki dan perempuan sebagai simbol asmara sang raja dan istrinya.

CANDI-KALASAN._FOTO_VIA_kebudayaan.kemdikbud.go.id

CANDI-KALASAN._FOTO_VIA_kebudayaan.kemdikbud.go.id

7. Candi Kalasan

Terletak di Desa Kalibening, Kalasan, Sleman, Candi Kalasan merupakan candi Buddha yang dibangun abad ke-8 pada masa Rakai Panangkaran dari Mataram Kuno. Candi itu digunakan sebagai tempat pemujaan Dewi Tara. Sampai sekarang, candi ini masih dipakai umat Buddha Tantrayana untuk pemujaan.

CANDI_SARI._FOTO_VIA_kebudayaan.kemdikbud.go.id

CANDI_SARI._FOTO_VIA_kebudayaan.kemdikbud.go.id

8. Candi Sari

Tak jauh dari Candi Kalasan, Anda bisa sekaligus mengunjungi Candi Sari di Desa Bendan. Arsitektur dan reliefnya mirip Candi Kalasan dan dibangun pada masa yang sama. Bedanya, candi ini digunakan sebagai biara untuk para biksu Budha dan pusat kegiatan keagamaan. Seperti Kalasan, candi ini dilengkapi patung Kinara Kinari dan Kalamakara.

CANDI_BANYUNIBO._FOTO_VIA_indonesiakaya.com

CANDI_BANYUNIBO._FOTO_VIA_indonesiakaya.com

9. Candi Banyunibo

Candi kecil ini berada di Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, dan merupakan candi tunggal di tengah area pertanian yang sepi. Candi ini ditemukan dalam reruntuhan, dan dipugar kembali menjadi satu candi induk, sedangkan candi perwara yang mengelilinginya masih berupa reruntuhan. Candi Budha yang dibangun abad ke-9 ini memiliki ruangan dengan delapan jendela.

CANDI_RATU_BOKO._FOTO_VIA_slemanonline.com

CANDI_RATU_BOKO._FOTO_VIA_slemanonline.com

10. Candi Ratu Boko

Terletak 3 kilometer di selatan Prambanan, situs ini cukup populer dan mudah ditemukan. Candi Ratu Boko sebenarnya merupakan istana yang dibangun abad ke-8 oleh wangsa Syailendra, dan kemudian diambil alih oleh raja-raja Hindu. Pengaruh arsitektur Budha dan Hindu membuat situs ini sangat unik. Namun yang paling menarik adalah panoramanya saat matahari terbenam yang membuat candi ini tampak eksotis.

Baca juga: Acara Tahunan Festival Lima Gunung di Candi Gunung Wukir

How to get there:

Sebaiknya, gunakan kendaraan pribadi atau rental untuk memudahkan perjalanan menuju candi-candi tersebut yang rata-rata tidak berada di jalan utama, kecuali komplek Prambanan.

Things to do:

Mengagumi arsitektur kuno yang dibuat dengan teknologi seadanya namun menghasilkan bangunan yang simetris dan pahatan yang halus dan rinci. Ingin berburu foto? Datanglah pagi atau sore hari, karena semua candi tersebut akan tampak indah saat matahari terbit dan terbenam.

 
 

RELATED ARTICLES