Politics of Fun Ala Eko Nugroho

 
 
 

Eko Nugroho adalah salah satu seniman dari generasi ketiga seni rupa pop Yogyakarta. Seni rupa pop adalah seni yang bisa dengan leluasa menggunakan berbagai macam media dari budaya massa, seperti komik dan kartun, tak terkecuali kesenian jalanan seperti mural dan kesenian rakyat.

Melalui karya-karyanya yang menabrak batas-batas medium penciptaan, Eko dianggap berhasil mengangkat segala sesuatu dari budaya massa seperti komik, grafiti, hingga kartun menjadi sebuah karya seni bernilai tinggi. Seolah melanjutkan kebiasaannya pada masa kecilnya, Eko bisa melukis di mana saja, di kanvas , di dinding, di ruang pameran atau di tembok kota, juga melukis di t-shirt.

EKO_NUGROHO_2

EKO_NUGROHO_2

Eko Nugroho tumbuh besar di Kampung Prawirodirjan, sebuah perkampungan padat yag berada di bantaran Kali Code, sebuah kali yang membelah Kota Yogyakarta. Sedari kecil, Eko sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia menggambar. Ia misalnya, dengan batu bata suka sekali menggoreskan coretan dan gambar di tembok rumahnya sendiri dan rumah tetangganya.

Karya-karya Eko terciri dengan semangat perlawanan ala Jogja. Ia misalnya, kerap memasukkan pelesetan gaya Yogyakarta, menyampakan kritik sosial dan politik dengan nada penuh canda. Mencampuradukkan Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa. Ia ingin menawarkan politics of fun kepada publik.

EKO_NUGROHO_3

EKO_NUGROHO_3

Pada 2005, Majalah Tempo memilih Eko yang ketika itu berusia 28 tahun, sebagai seniman yang mampu menciptakan kesegaran dalam ruang ekspresi seni rupa di Indonesia. Berangkat dari seni jalanan, membuat publik semakin mudah memahami karya-karyanya. Kita bisa menemukan karya muralnya di dinding penyangga jembatan layang Lempuyangan, Jalan Dr. Soetomo, Yogya. Manusia-manusia biru yang berjumpalitan, kaki di atas, kepala di bawah, dan tanpa wajah.

Baca juga: Museum Ini Juga Digemari Para Pencinta Seni

Jejak perjalanan karya Eko Nugroho

2001 - Daging Tumbuh atau disingkat DGTMB

Sebuah komunitas komik underground yang bersifat terbuka dan melibatkan banyak seniman. Juga menerbitkan komik Daging Tumbuh enam bulanan, dengan hanya bermodal fotokopian. Serial komik dengan visualisasi yang liar, jenaka, sekaligus aneh. Eko dengan tanpa beban menyerap dunia fashion, arsitektur, hiburan, science fiction.

2013 - Scarf Louis Vuitton
Brand fashion terkenal asal Prancis ini mengajak Eko berkolaborasi untuk menciptakan koleksi musim gugur dan dingin tahun 2013. Dalam karya Republik Tropis atau Tropical Giant Square, Eko Nugroho memadukan pengaruh pop dengan motif dan sentuhan isu identitas Indonesia. Lewat scarf yang dijual hampir 1.000 dolar US itu, Eko memasukkan namanya dalam deretan seniman besar dunia yang sudah digandeng LV.

2015 – Pameran di Frankfurt
Bersama tiga seniman Indonesia lainnya, Eko tampil dalam pameran bertema Root-Indonesian Contemporary Art di Frankfuter Kunstverein, Frankfurt Jerman. Bagian dari Frankfurt Book Fair, pameran ini dihelat oleh Galeri Nasional Indonesia dan Frankfuter Kunstverein, sebuah asosiasi galeri dan seni tertua dan paling disegani di Jerman. Eko mengambar dinding-dinding yang menghubungkan lantai satu dan dua dengan sosok-sosok antara astronot dan makhluk antah berantah ditambah komentar-komentar politik.

2016 - Film Ada Apa Dengan Cinta? 2
Produser film Mira Lesmana dan sutarada Riri Reza mengajak Eko untuk terlibat dalam film yang pengambilan gambarnya sebagian besar dilakukan di Yogya. Di Film ini, Eko membuat 12 karya khusus untuk AADC? 2. Ia juga tampil di film ini sedang melakukan pameran seni, tempat di mana Rangga dan Cinta bertemu untuk pertama kalinya setelah 14 tahun tak berjumpa.

LINK SUMBER:
Sumber foto
1. ekonugrohoatclass.com
2. dgtmb.wordpress.com
3. arndtfineart.com

 
 

RELATED ARTICLES