Tiga Pengusaha Muda Yogyakarta yang Merintis Bisnis Sejak Kuliah

 
 
 

Yogyakarta sebagai Kota Pelajar tak hanya menghasilkan puluhan ribu sarjana setiap tahun yang berkompetisi mencari lapangan kerja, tetapi juga anak-anak muda kreatif yang justru menciptakan peluang kerja bagi orang lain dengan cara berwirausaha. Mereka adalah sosok anak muda inspiratif yang sudah merintis bisnis sejak di bangku kuliah dan terus membesarkannya hingga sekarang.

FAUZAN_RACHMANSYAH

FAUZAN_RACHMANSYAH

Fauzan Rachmansyah – Kalimilk
Bagi kamu pencinta minuman susu segar di Jogja, pasti tak asing lagi dengan Kalimilk, kedai susu dengan varian rasa yang selalu ramai pengunjung. Siapa sangka usaha yang beromzet belasan juta per hari itu awalnya dirintis oleh seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Fauzan Rachmansyah.

Kalimilk adalah akronim dari Kaliurang Milk, susu yang diproduksi oleh peternak sapi di wilayah lereng Merapi – Pakem, Wonorejo, dan Cangkringan – yang merupakan binaan Fauzan. Berawal dari upaya untuk membantu peternak sapi yang kesulitan memasarkan hasil perahan setelah erupsi Merapi 2010, Fauzan menggagas sebuah kedai susu.
 

SUSU_ANEKA_RASA

SUSU_ANEKA_RASA

Ia kemudian bekerja sama dengan peternak sapi untuk menghasilkan susu segar berkualitas untuk diproduksi menjadi minuman susu aneka rasa. Kalimilk resmi dibuka pada 21 Desember 2010, dan menjadi kedai susu modern pertama di Jogja yang kini memiliki tiga cabang dengan pasokan susu hampir 300 liter per hari.

Namun, Fauzan tak semata mengejar keuntungan semata. Bisnisnya tetap punya sisi sosial, dengan menyisihkan laba usaha untuk beasiswa sekolah bagi karyawan dan keluarga peternak sapi di Merapi.

Lewat ide sociopreneurship ini, Fauzan memenangi kompetisi Wirausaha Muda Mandiri 2011, menyisihkan 3.700 peserta dari 385 universitas di Indonesia.

ARIE_SETYA_YUDHA

ARIE_SETYA_YUDHA

Arie Setya Yudha – Molay
Anak muda ini punya bisnis unik sejak masih duduk di bangku kuliah Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Semuanya berawal dari hobinya bermain air softgun. Arie kemudian mencoba mendesain sendiri "seragam militer" untuk para penggemar olah raga tembak-tembakan ala Perang Vietnam itu.

Bermodal kain seharga Rp280.000 yang ia bawa ke penjahit, bisnis itu bermula. Desain Arie disukai teman-temannya, sehingga ia memproduksi lagi. Sejak 2009, ia mulai memasarkan secara online, dan tak disangka permintaan pasar cukup tinggi, termasuk dari luar negeri.

Arie mendirikan PT. Molay di Jogja, nama ini sekaligus menjadi nama brand untuk semua produk tactical apparel and gear rancangannya, meliputi seragam, jaket, footwear, dan headgear. Kali ini konsumennya meluas, bukan hanya penghobi air softgun, tetapi juga tentara dan polisi.
 

HEADGEAR

HEADGEAR

Ia mengerjakan pesanan untuk seragam Detasemen Gegana Polri, Batalyon Intai Amfibi Marinir, dan berbagai satuan militer di Amerika Serikat, Kanada, Austria, Jerman, Italia, dan Vietnam. Seragam militer ini dibanderol dengan harga rata-rata Rp700 ribu, sesuai dengan kualitas bahan, jahitan, dan desain yang menonjolkan inovasi, proteksi, dan durabilitas.

Kini, pemuda asal Pekanbaru itu sudah mengantongi omzet ratusan juta per bulan dari hasil mendesain seragam militer. Nah, jangan pernah remehkan hobi kamu ya, siapa tahu bisa menghasilkan uang.

YOYOK_HERI_WAHYONO._FOTO_VIA_BISNISUKM

YOYOK_HERI_WAHYONO._FOTO_VIA_BISNISUKM

Yoyok Hery Wahyono – Warung SS
Sosok ini adalah pendiri Waroeng Spesial Sambal (SS), yang menjadi sukses berkat hobinya menyantap makanan pedas. Yoyok merintis usahanya sejak 2002, ketika masih menjadi mahasiswa jurusan Teknik Kimia UGM. Mahasiswa asal Boyolali itu harus bertahan hidup karena kuliahnya tak kunjung selesai.

Pilihannya untuk berjualan menu aneka sambal muncul ketika ia dan teman-temannya penyuka sambal tidak pernah menemukan rasa sambal yang pedas dan enak di Jogja. “Semua punya keluhan yang sama, semua sambal di sini manis, enggak ada yang pedas,” kata Yoyok.

Melihat belum adanya kuliner sambal, Yoyok kemudian mengutak-atik berbagai resep sambal. Tester-nya adalah teman-temannya sendiri. Jika masih ada satu orang yang berpendapat kurang enak, Yoyok akan memperbaiki resepnya sampai semua mengatakan enak.

Ia kemudian memberanikan diri membuka lapak kaki lima di wilayah kampus dengan modal Rp9 juta yang berasal dari tabungan dan pinjaman. Respon konsumen cukup bagus, sehingga Yoyok bisa mengantongi omzet Rp1,5 juta sehari.

Waroeng SS berkembang menjadi rumah makan permanen – bukan warung tenda lagi – di Jogja dengan menu masakan rumahan dengan beragam sambal, dari sambal terasi, bawang, teri, cumi, belut, sampai sambal bajak. Rasanya dijamin sesuai tagline-nya; Pedas Abis! Harga menunya sangat terjangkau kantong mahasiswa.

Kini Waroeng SS memiliki 78 outlet yang tersebar di 41 kota. Karyawannya lebih dari 1.000 orang. Omzetnya? Kabarnya sudah tembus angka miliaran rupiah per bulan.

So, jika kamu punya ide bisnis, jangan takut mencoba!

 
 

RELATED ARTICLES