Sate Klathak: Sate "Ndeso" Khas Bantul

 
 
 

Jalan-jalan ke Bantul, rasanya tak lengkap jika tak mampir mencicipi kuliner khasnya, yaitu sate klathak. Makanan ini banyak dijajakan di Jalan Imogiri Timur, terutama di daerah sekitar daerah Jejeran Wonokromo, Pleret. Di antara sekian banyak, warung Pak Bari dan Pak Pong paling sering direkomendasikan para pencinta kuliner.

Jika Anda penasaran dengan makanan ini, tanyalah pada Rangga dan Cinta yang pernah reuni di warung sate klathak Mas Bari pada adegan film Ada Apa Dengan Cinta 2. Sejak kemunculan di film itu, warung Pak Bari di Pasar Jejeran selalu ramai pengunjung. Setiap malamnya, tak kurang 20 kilogram daging habis sebelum pukul 21.00.

Warung Pak Bari buka dari selepas magrib hingga tengah malam, sehingga sate klathak lebih dikenal sebagai jenis kuliner malam hari. Namun, saat ini banyak penjual yang buka sejak siang hari, seperti warung Pak Pong, karena sate tetap enak disantap untuk makan siang.

Sate klathak berasal dari Jejeran. Salah satu pedagangnya yang terkenal saat itu adalah Mbah Ambyah, nenek dari Pak Bari yang berjualan keliling memikul angkring sebelum menetap di pasar.

SATE_KLATHAK_FOTO__IMGRUM

SATE_KLATHAK_FOTO__IMGRUM

“Saya generasi ketiga. Nenek saya sudah jualan sebelum tahun 1945, lalu diteruskan bapak saya, sebelum diwariskan ke saya,” kata Pak Bari.

Sate klathak berbahan dasar daging wedhus gembel (domba gimbal) berusia 7-9 bulan, bukan kambing biasa. Domba dipilih karena tekstur daging yang lebih empuk dan tidak berbau prengus (bau khas kambing). Sate ini menggunakan potongan daging yang bersih, bebas dari lemak gajih.

Tidak seperti sate kambing pada umumnya yang dibakar dengan bumbu lengkap, sate klathak hanya dibumbui dengan garam kasar (garam laut) saja. Namun, sekarang beberapa pedagang menambahkan merica untuk menyedapkan rasa. Karena kesederhanaan bumbunya ini, sate klathak juga sering disebut sate "ndeso" (desa).

Daging domba dipotong-potong, kemudian ditusuk dengan jeruji sepeda dan dipanggang di atas bara arang. Tidak seperti bambu tusuk sate sekali pakai, jeruji ini digunakan berkali-kali. Jeruji sepeda merupakan besi penghantar panas, sehingga membuat potongan daging bagian dalam empuk dan matang, tetapi tidak gosong. Tak perlu khawatir, pedagang sate klathak selalu membersihkan jeruji itu sebelum dipakai, jadi tetap aman dan bebas karatan.

SATE_KLATHAK._FOTO_INSTIDY

SATE_KLATHAK._FOTO_INSTIDY

Satu porsi sate biasanya terdiri dari dua tusuk jeruji yang disajikan dengan kuah gulai. Meski hanya dua tusuk, potongan dagingnya besar-besar dan pas dengan sepiring nasi. Biasanya, sate klathak ditemani teh panas kental dengan gula batu. Harga per porsi sate rata-rata sama, Rp20.000.

Jika Anda terbiasa dengan rasa sate kambing berbumbu kacang atau kecap yang tasty, mungkin lidah Anda akan merasa asing dengan sate klathak yang dominan asin. Tetapi, jika disantap bersama kuah gulai, rasa gurih daging baru keluar.

Nama klathak tidak jelas dari mana asalnya. Bahkan, para pedagang pun tak pernah tahu pasti mengapa disebut sate klathak. Dari cerita mereka, konon daging bercampur garam yang dibakar menimbulkan suara klathak-klathak, seperti meletup-letup.

Warung sate klathak kebanyakan berlokasi di Pleret dan Imogiri, tak jauh dari Jejeran. Kalau ada warung yang ada di luar, bisa dipastikan juru masaknya orang Jejeran, seperti warung Pak JeDe di daerah Nologaten, Depok, Sleman. Konon, entah benar atau tidak, rasa sate klathak kurang enak jika yang memasaknya bukan orang Jejeran meski resep dan bumbunya sama.

SATE_KLATHAK._FOTO_YOGYADISE

SATE_KLATHAK._FOTO_YOGYADISE

Setiap warung sate klathak memasak sate klathak secara tradisional, menggunakan tungku arang dengan kipas tangan manual. Jadi, Anda butuh kesabaran saat memesan makanan ini, terlebih jika saat banyak pengunjung.

Sate Klathak Pak Bari
Pasar Jejeran Wonokromo
Jl. Imogiri Timur
Buka jam 18.30-01.00

Sate Klathak Pak Pong
Jl. Stadion Sultan Agung, Bantul
Buka jam 11.00-23.00

Sate Klathak Pak JeDe
Jl Nologaten No 46 Depok
Buka jam 11.00-23.00

 
 

RELATED ARTICLES