Garin Nugroho, Dulu Nonton Film Gratisan, Sekarang Bikin Film Mendunia

 
 
 

Garin Nugroho Riyanto adalah salah satu dari sineas Indonesia yang karyanya banyak diapresiasi di dunia. Sudah tak bisa disebut lagi banyaknya penghargaan yang ia peroleh dari festival ke festival di luar negeri.

Ibarat merek dagang, nama Garin adalah jaminan film-film berkualitas. Tentu saja bukan film “haha-hihi”, roman picisan, atau horor murahan. Hampir semua film besutan sutradara kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1961 ini tipikal film berat, rumit, dan serius.

GARIN_NUGROHO._FOTO_VIA_HAMTIAR

GARIN_NUGROHO._FOTO_VIA_HAMTIAR

Dari sastra ke film

Garin kecil sebenarnya sangat terpengaruh oleh sang ayah, Soetjipto Amin, pensiunan pegawai pos yang juga penulis novel Jawa. Garin mewarisi kemampuan ayahnya. Meski masih anak-anak, tulisannya sudah sering dimuat di berbagai media lokal di Yogyakarta.

Garin juga menyukai film sejak kecil, terutama film koboi dan kungfu yang diputar di bioskop Permata, Yogyakarta. Ia sering menonton gratisan, memanfaatkan orang lain yang pergi ke bioskop sendirian. “Dulu, kalau anak ikut nonton orang tua itu gratis. Saya sering mencari orang dewasa yang mau berpura-pura sebagai orang tua biar dapat tiket gratis,” ucap Garin mengenang.

Garin remaja ingin sekali membuat film. Ia lalu bergabung dengan klub teater drama di sekolah, menulis skrip, dan menyutradai pementasan. Garin kemudian belajar sinematografi di Institut Kesenian Jakarta – lulus tahun 1985 – sekaligus di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

OPERA_JAWA._FOTO_VIA_QUINLAN

OPERA_JAWA._FOTO_VIA_QUINLAN

Berawal dari Cinta Dalam Sepotong Roti

Awal berkarya, Garin justru lebih sering menggarap film-film dokumenter seperti Komodo Permata Purba (1986), Catatan Bumiharjo (1987), Tepuk Tangan (1986), Menyuling Masa Depan (1989), dan Tanah Tantangan
(1989). Film-filmnya ini merepresentasikan sikapnya yang kritis terhadap persoalan sosial dan lingkungan di negeri ini. Film dokumenter Garin yang paling populer adalah Anak Seribu Pulau yang menjadi serial televisi pada tahun 1990-an.

Garin menjadi terkenal setelah debutnya sebagai sutradara film layar perak berjudul Cinta Dalam Sepotong Roti (1990) yang memborong lima Piala Citra FFI 1991. Fillm mengenai cinta segitiga yang rumit ini digarap dengan dialog-dialog yang puitis dan teknik sinematografi yang berbeda dari film pada umumnya. Nama Garin pun melambung di industri perfilman Tanah Air.

TRIBUN_NEWS_PEKANBARU

TRIBUN_NEWS_PEKANBARU

Cinta Dalam Sepotong Roti tidak hanya mendapat pengakuan domestik. Garin juga mendapat penghargaan sebagai sutradara pendatang baru terbaik dalam Festival Film Asia Pasifik 1992 di Seoul.

Film Garin berjudul Puisi Tak Terkuburkan (1999) memenangi banyak penghargaan di berbagai festival. Film yang bertema korban salah tangkap Peristiwa 1965 di Aceh itu bahkan masuk dalam daftar 100 film terbaik sepanjang masa oleh komite Busan International Film Festival.

Garin terpilih menjadi satu di antara enam sutradara di dunia pada tahun 2006 untuk merancang dan membuat proyek film inovatif yang diputar untuk peringatan 250 tahun musisi dan komposer, Wolfgang Amadeus Mozart, di Wina, Austria.

SETAN_JAWA._FOTO_VIA_DAMNILOVEINDONESIA

SETAN_JAWA._FOTO_VIA_DAMNILOVEINDONESIA

Ia kemudian menggarap Opera Jawa (2006), film opera dengan tarian dan gending Jawa. Garin menggandeng maestro gamelan Rahayu Supanggah sebagai penata musik. “Barangkali Opera Jawa adalah film berbahasa Jawa yang paling banyak diputar dan ditonton di dunia,” kata Garin.

Film ini juga mendapat nominasi di berbagai festival film di London, Toronto, Venesia, serta memenangi katagori film, sutradara, dan aktris terbaik di Festival Film Independen Internasional Brussel 2008.

AACH_AKU_JATUH_CINTA._FOTO_VIA_TAGMENTATION

AACH_AKU_JATUH_CINTA._FOTO_VIA_TAGMENTATION

Membidani Festival Film Jogja (JAFF)

Garin tetap berkarya di dekade ketiga karirnya dengan menggarap Mata Tertutup (2012), Soegija (2012), Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015), dan Setan Jawa (2016). Sejak 2006, ia juga menggagas Jogja-NETPAC Asian Film Festival, sebuah ajang apresiasi dan promosi film-film dari negara Asia-Pasifik. Festival ini menjadi yang terbesar di Indonesia karena memutar ratusan film dari puluhan negara dan dibanjiri ribuan penonton tiap tahun. Sebuah gagasan yang semakin mengukuhkan nama Garin di dunia film Tanah Air.

Feature image diambil dari Tribun News Pekanbaru.

 
 

RELATED ARTICLES