Pesta Boneka Yogyakarta Hidupkan (Kembali) Teater Boneka

 
 
 

Masih ingat adegan film Ada Apa Dengan Cinta 2, saat Rangga dan Cinta menghabiskan malam di Yogyakarta – selain makan Sate Klathak di warung Pak Bari? Ya, keduanya menonton pertunjukan boneka berjudul Setjangkir Kopi dari Plaja yang dimainkan oleh Papermoon Puppet Theater.

Papermoon adalah teater boneka yang dibentuk tahun 2006 oleh sepasang suami-istri, Maria “Ria” Tri Sulityani, seorang seniman teater, dan Iwan Effendi, seorang perupa dan penata artistik. Berkat kreativitas keduanya, boneka bisa menjadi media untuk menghibur sekaligus menyampaikan pesan dan gagasan kepada publik.

Teater boneka muncul sebagai seni pertunjukan baru di Yogyakarta, dan belum memiliki reputasi seperti traditional puppet show atau wayang kulit yang telah menjadi salah satu ikon budaya daerah. Namun, sejak digelarnya Pesta Boneka pertama kali pada 2008 yang digawangi oleh Papermoon, teater boneka menjadi semakin populer di Yogyakarta.

Selain menjadi motor festival di Indonesia, Papermoon juga telah berkeliling dunia untuk mempromosikan teater boneka. Ria dan Iwan mementaskan Papermoon di Amerika Serikat, negara-negara Eropa dan Asia, lebih sering ketimbang di dalam negeri. Karenanya, nama Papermoon lebih dulu dikenal di negara lain sebelum populer di Indonesia.

Awalnya, mereka ingin membuat cerita boneka untuk anak-anak. Inspirasinya adalah Si Unyil, Sesame Street, dan wayang golek Ki Asep Sunarya. Namun, belakangan Papermoon berkembang menjadi teater boneka yang membawakan cerita untuk segala usia, termasuk untuk orang dewasa.

PESTA_BONEKA_FOTO_FACEBOOK_PAPERMOON_PUPPET_THEATRE

PESTA_BONEKA_FOTO_FACEBOOK_PAPERMOON_PUPPET_THEATRE

“Kami hanya ingin menciptakan sesuatu yang bisa dibagi dengan orang lain. Kami memiliki ketertarikan pada seni rupa dan seni pertunjukan, jadi teater boneka ini yang bisa menyatukan mimpi kami,” kata Ria.

Papermoon menjadikan Pesta Boneka sebagai festival reguler dua tahunan di Yogyakarta. Tahun 2016 ini merupakan kali kelima, yang dikemas dalam tiga hari pertunjukan, awal Desember lalu, yang berlangsung di Gedung PKKH Universitas Gadjah Mada dan Desa Kepek, Bantul.

Dengan mengambil tema "Home", festival ini bercerita tentang rumah, yakni tempat segalanya bermula dan tempat orang-orang yang kita sebut keluarga. Tema ini juga merupakan bentuk kepedulian para seniman tentang rumah sebagai isu sosial, bukan semata tentang keluarga, tetapi juga tentang tanah air sebagai rumah besar sebuah bangsa. Banyak orang yang terusir dari "rumah" sendiri, merasa tidak aman, dan mereka berusaha mencari "rumah" baru.

Seperti biasanya, Papermoon menggandeng seniman teater boneka dari negara lain sebagai penampil sekaligus pengisi acara, antara lain Ahmad Naseer Formuli (Afghanistan), Tim Spooner (Inggris), Frigg (Belanda), Anino Shadowplay (Filipina), For What Theater (Thailand), Flying Balloon Puppet (Indonesia), Wayang Sampah (Indonesia), Anne Sophie Le Court (Perancis), Tamara Shogaolu (Amerika Serikat) dan Ruth Marbun (Indonesia).

Para seniman mancanegara itu merupakan jaringan pertemanan Ria saat ia dan suaminya mengadakan pertunjukan atau mengikuti residensi seni di luar negeri. Mereka datang untuk memeriahkan Pesta Boneka dengan biaya sendiri.

RIA_PAPERMOON._FOTO_FOOTSCRAYARTS

RIA_PAPERMOON._FOTO_FOOTSCRAYARTS

Ria merancang Pesta Boneka sebagai ruang belajar bersama dan berbagi pengalaman antar seniman teater boneka dari berbagai negara. Awalnya hanya berupa workshop kolaborasi terbatas, tetapi kemudian berkembang menjadi pementasan untuk publik dengan audiens beragam, dan berubah menjadi festival.

Papermoon awalnya menggunakan boneka seukuran manusia, yang digerakan tiga orang. Namun karena alasan kepraktisan, ukuran boneka diperkecil agar bisa bergerak oleh dua tangan, sehingga pementasannya tidak terlalu makan ruang. Meski demikian, ukuran boneka tidak mengurangi ekspresi wajah boneka yang menggambarkan ketakutan, kesedihan, kegembiraan, dan kebahagiaan.

Ria sendiri yang membuat cerita dan menjadi sutradara teater, sementara suaminya mengatur segala yang terkait artistik seperti kostum, properti, pencahayaan, dan musik.

Cerita-cerita yang diangkat Papermoon juga banyak dipengaruhi oleh ingatan masa lalu tentang sejarah abu-abu Indonesia. Setjangkir Kopi dari Plaja dan Mwathirika adalah lakon teater boneka Papermoon yang diilhami dari kisah nyata dengan latar belakang peristiwa 1965.

Dan, cerita tentang kisah cinta yang kandas dalam Setjangkir Kopi dari Plaja kembali dipentaskan Oktober lalu di Jakarta untuk menggalang dana Pesta Boneka.

 
 

RELATED ARTICLES