Berburu Brand Lokal di Indie Clothing Carnival

 
 
 

Deretan stand distro dengan desain unik menghiasi ruang pameran Jogja Expo Center (JEC) selama tiga hari, 23-25 September. Ada 80 brand lokal yang menampilkan produk terbarunya, tidak hanya dari Yogyakarta, tetapi juga dari kota lain seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Solo, dan Denpasar.

Mereka ikut memeriahkan Indie Clothing Carnival (ICC) Yogyakarta, sebuah event triwulan yang selalu ditunggu para penggemar brand lokal. Selain apparel keluaran terbaru, pameran ini juga menawarkan diskon yang menggiurkan – up to 70 percent off. Di mana lagi bisa berburu produk distro dengan harga murah?

ICC1

ICC1

Ada banyak pilihan brand, seperti Starcross, Troy, Nimco, Psychogenic, Evilwar, Soldierside, Hooligans, A.K.A, 308, Badbird, Dropout, ShockingLab, Blackstar, Heuvel, DBRK RVNG, Enslaved, Rown Division, Blood, Disable, Crush Exp, Rillingen Hood, Anyway, Mortalium, Itsrain, Westbrook, dan masih banyak lainnya. Semuanya punya style dan penggemar berbeda.

Produknya juga beragam, mulai dari kemeja flanel kotak-kotak, kaos oblong, celana, jaket, topi, tas, jam tangan, hingga aksesori. Desain-desain yang ditawarkan cukup up-to-date, bahkan beberapa brandsengaja belum merilisnya di kota lain.

ICC2

ICC2

Harganya pun cukup miring. Starcross misalnya, salah satu vendor yang ramai pengunjung, mengobral baju dengan harga di bawah label, dari harga normal Rp200.000-an menjadi Rp100.000-an. Begitu juga dengan vendor lainnya yang tak mau kalah banting harga.

ICC kali ini bukan hanya menjajakan pakaian yang stylish, tetapi juga menyuguhkan konser musik dengan tata lampu dan sound yang ciamik
selama tiga malam dalam satu ruang pameran. Ada band lokal terkenal juga, di antaranya Endank Soekamti, Shaggydog, The Sigit, Killing Me Inside, dan Rocket Rocker. Dengan tiket masuk Rp25.000, pengunjung sudah bisa berbelanja sambil menonton konser sampai pukul 22.00.

ICC3

ICC3

Brand dan band memang tak terpisahkan. Banyak produk distro yang lahir dari ekspresi gaya hidup subkultur yang terinspirasi oleh musik dan komunitasnya. Misalnya, musik black metal dan underground telah menciptakan style berpakaian yang memengaruhi para penggemarnya – warna hitam dan gambar tengkorak, salah satunya. Begitu juga musik punk dan rock alternatif yang masing-masing punya gaya berbeda dalam berpakaian.

Dalam perkembangannya, distro juga menmbentuk tren busana masa kini yang anti-mainstream, berbeda dengan produk yang dijual di toko atau mal. Desain kaos yang liar dan tidak umum, justru banyak disukai anak muda yang ingin mengekspresikan kebebasan dirinya dengan tampil berbeda.

ICC4

ICC4

Di Yogyakarta, satu dekade terakhir, menjamurnya distro di Kota Pelajar ini tak lepas dari munculnya anak-anak muda kreatif yang mengembangkan
brand lokal menjadi bisnis apparel. Beberapa di antarnya sudah meluaskan pasarnya ke luar Jawa dan luar negeri. Seperti halnya Bandung, Yogyakarta tumbuh menjadi salah satu barometer perkembangan indie clothing di tanah air.

Baca juga: Demangan, Destinasi Belanja dan Kuliner Seru

ICC6

ICC6

“Dalam setahun, ICC digelar empat kali, tetapi selalu penuh pengunjung. Animo penggemar brand lokal di sini memang paling tinggi dibanding kota-kota lain,” ujar Firdaus Ramadan, perwakilan Showcase sebagai pihak penyelenggara event.

Pameran kali ini menargetkan sedikitnya 3.000 pengunjung dalam tiga hari. Dan sampai hari kedua, ternyata banyak pengunjung dari kota lain seperti Solo, Magelang, dan Purworejo, bahkan dari Ngawi, Jawa Timur, yang tak ingin melewatkan diskon baju distro di ICC. Anda juga tertarik?

 
 

RELATED ARTICLES