3 Festival Film di Jogja yang Melahirkan Para Sineas Muda

 
 
 

Yogyakarta adalah barometer film indie nasional. Di kota inilah muncul bakat-bakat muda perfilman yang karyanya mencuri perhatian dunia. Sebut saja Wregas Bhanuteja, sutradara film Prenjak yang menyabet penghargaan di Cannes Film Festival 2016, dan Yosep Anggi Noen pemenang Sonje Award di Busan International Film Festival 2013.

Maka tak heran jika Yogyakarta menjadi tempat embrio sejumlah festival film yang kemudian menginspirasi event serupa di sejumlah kota lain. Setidaknya ada tiga festival film paling bergengsi di Yogyakarta yang sayang jika Anda lewatkan. Berikut ini beberapa di antaranya.

SALAWAKU__FILM_PEMBUKA_JAFF_2016._FOTO_JAFF-FILMFEST

SALAWAKU__FILM_PEMBUKA_JAFF_2016._FOTO_JAFF-FILMFEST

Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF)

(November-Desember)

Pernah membaca berita tentang kemenangan film Istirahatlah Kata-kata di sebuah festival film di Yogyakarta beberapa waktu lalu? Inilah event yang dimaksud. Festival ini dimotori oleh sineas kenamaan Garin Nugroho, yang ingin menyediakan ruang apresiasi, diskusi, sekaligus promosi bagi film dari negara-negara Asia.

JAFF bermitra dengan Network for the Promotion of Asian Cinema (NETPAC), sebuah jaringan industri film Pan-Asia beranggotakan 30 negara yang bermarkas Colombo, Srilanka. JAFF selalu dinanti setiap akhir tahun. Tak jarang penonton membludak. Panitia pernah mencatat, jumlahnya tak kurang dari 7.500 orang.

Jumlah partisipan setiap tahun juga meningkat. JAFF ke-11 pada tahun lalu memutar 138 film dari 27 negara di 10 lokasi yang tersebar di Yogyakarta, seperti Taman Budaya, Empire XXI, hingga sejumlah kampus di Yogyakarta. Selain film Indonesia yang pernah beredar di festival mancanegara seperti PrenjakTurah, dan Salawaku, JAFF juga memutar film populer seperti My Stupid Boss, Tiga Dara, dan Mereka Bilang Saya Monyet.

Tidak hanya screening, festival ini memberikan apresiasi Hanoman Award untuk film Asia terbaik pilihan juri, NETPAC Award untuk sutradara paling inovatif, Geber Award untuk film terbaik pilihan komunitas film di Indonesia, Blencong Award untuk film pendek Asia terbaik pilihan juri, hingga Student Award untuk film terbaik pilihan pelajar di Yogyakarta.

YOSEP_ANGGI_NOEN__SUTRADARA_ISTIRAHATLAH_KATA-KATA__FILM_TERBAIK_ASIA_DI_JAFF_KE-11_2016._FOTO_KRJOGJA

YOSEP_ANGGI_NOEN__SUTRADARA_ISTIRAHATLAH_KATA-KATA__FILM_TERBAIK_ASIA_DI_JAFF_KE-11_2016._FOTO_KRJOGJA

Festival Film Dokumenter (FFD)

(Desember)

FFD merupakan festival film dokumenter tertua di Asia Tenggara yang digelar setiap tahun sejak 2002. Festival ini digagas oleh Komunitas Dokumenter, kumpulan anak muda yang galau atas ketiadaan ruang apresiasi terhadap karya seni dokumenter, yang menyebabkan minat produksi fim sangat rendah.

Secara berangsur, FFD berubah menjadi ajang bergengsi. Jumlah film yang masuk panitia selalu meningkat setiap tahun dan dikurasi secara ketat. Seperti pada FFD terakhir yang bertajuk “Displacement”, yang digelar 7-10 Desember 2016, hanya 71 fim dari 32 negara yang diputar dari ratusan submission.

Juri dan kurator festival merupakan orang-orang yang punya jam terbang dengan dunia film, seperti John Badalu (produser), Thong Kay-Wee (kurator), Ranjan Palit (film-maker dokumenter), Eric Sasono (kritikus), BW Purba Negara (pemenang Eagle Award), dan Lisabona Rahman (jurnalis film).

ROSHMIA__PEMENANG_FFD_2016._FOTO_FFD.OR

ROSHMIA__PEMENANG_FFD_2016._FOTO_FFD.OR

Festival Film Pelajar (FFP)

(Desember)

Ini merupakan festival film pelajar tingkat nasional yang rutin digelar di Yogyakarta sejak 2010. Partisipannya adalah pelajar dan komunitas film di sekolah di berbagai provinsi. FFP ini sudah digelar ketujuh kali pada 17-18 Desember.

Dibanding dua festival di atas, FFP punya segmen penggemar yang lebih terbatas. Tetapi, justru FFP ini menjadi "kawah candradimuka" bagi calon-calon sineas muda. Festival yang menyuguhkan kompetisi dan diskusi ini menjadi tempat mereka belajar membuat sekaligus mengapresiasi film.

Komunitas film pelajar di Yogyakarta sendiri jumlahnya cukup banyak dan tak bisa dipandang sebelah mata. Karena dari komunitas film di sekolah itulah muncul sosok Wregas dan Anggi yang kini menjadi sineas muda yang namanya mulai mendunia.

 
 

RELATED ARTICLES