Sineas Muda Yogyakarta yang Mendunia

 
 
 

Wregas Bhanuteja, sutradara muda asal Yogyakarta telah menorehkan sejarah baru bagi Indonesia setelah filmnya yang berjudul Prenjak (In the Year of Monkey) memenangi kompetisi La Semaine de la Critique di Festival Festival Cannes 2016 sebagai film pendek terbaik. Wregas menyabet penghargaan Le Prix Decouverte Leica Cine dan hadiah tunai 4.000 euro.

WREGAS_BHANUTEJA._FOTO_Dari_FACEBOOK_WREGAS_BHANUTEJA.

WREGAS_BHANUTEJA._FOTO_Dari_FACEBOOK_WREGAS_BHANUTEJA.

Di ajang festival film tertua dan paling bergengsi di dunia itu, Prenjak
menyingkirkan 9 nominasi lainnya dari berbagai negara yang terpilih dari 1500 film pendek yang masuk ke meja juri.

Film berdurasi sekitar 13 menit itu bukanlah debut Wregas di ajang internasional. Sebelumnya, film besutannya berjudul Lembusura tampil di Festival Film Berlin 2015 danThe Floating Chopin muncul di Festival Film Hong Kong 2016.

Wregas mulai membuat film sejak duduk di bangku SMP saat mengikuti lomba film antar kelas. Ia semakin tertarik dan mengembangkan minatnya dengan bergabung di klub sinematografi di sekolahnya, SMA Kolose De Brito Yogyakarta.

Hingga lulus, Wregas sudah menghasilkan belasan film pendek bersama teman-temannya. Ia kemudian melanjutkan studi di Institut Kesenian Jakarta untuk memperdalam kemampuannya membuat film.

Film-film karya sineas berusia 23 tahun itu selalu mengambil setting
Yogyakarta dan bercerita tentang peristiwa sehari-hari yang berlatar budaya Jawa, lingkungan tempat ia lahir dan tumbuh besar, seperti penggunaan bahasa Jawa ngoko dalam dialog Prenjak. Wregas adalah sosok sineas muda yang karyanya tak bisa lepas dari kota kelahirannya.

Yogyakarta juga telah melahirkan sutradara muda berbakat lainnya, Yosep Anggi Noen, yang film-filmnya menjadi langganan screening di berbagai festival film di belahan dunia.

YOSEP_ANGGI_NOEN._FOTO_PRW.KYODONEWS.JP

YOSEP_ANGGI_NOEN._FOTO_PRW.KYODONEWS.JP

Anggi, seorang sineas yang idealis, tumbuh dan bermula dari komunitas 56 Films di sekolahnya, SMA 3 Yogyakarta, dan berlanjut di bangku kuliah jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada.

Film karya Anggi adalah potret kehidupan masyarakat golongan rendah di Yogyakarta yang lekat dengan berbagai masalah keseharian. Ceritanya sederhana, namun selalu penuh dengan kritik sosial.

"Bagi saya film bukan soal bisnis, tetapi media untuk mengekspresikan cara pandang kita terhadap sebuah persoalan," kata Anggi yang tak sungkan menolak tawaran dana film dari penyokong yang tidak sepaham dengan sikapnya.

Film panjang Anggi berjudul Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya mendapatkan Mention Award di Festival Film Vancouver 2013. Sedangkan film pendeknya berjudul Lady Caddy Who Never Saw a Hole in One meraih Sonje Award di Festival Film Internasional Busan 2013.

LADY_CADDY_WHO_NEVER_SAW_A_HOLE_IN_ONE_KARYA_YOSEP_ANGGI_NOEN._FOTO_BERLINALE-TALENTS.DE

LADY_CADDY_WHO_NEVER_SAW_A_HOLE_IN_ONE_KARYA_YOSEP_ANGGI_NOEN._FOTO_BERLINALE-TALENTS.DE

Penerima penghargaan Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam bidang seni budaya itu juga menggarap film tentang penyair Indonesia yang hilang di pengujung Orde Baru, Wiji Thukul, berjudul Istirahatlah Kata-katayang rilis perdana Agustus lalu di Festival Film Locarno, Swiss, dan Oktober lalu diputar di Busan, Korea.

Yogyakarta adalah ladang subur persemaian talenta-talenta baru perfilman. Di kota ini komunitas film ada di setiap sekolah dan kampus, yang menjadi tempat anak muda bereksperimen. Bahkan, anak-anak usia sekolah sudah berlatih membuat film berbiaya murah.

Pemerintah daerah juga tak tanggung-tanggung dalam memberi ruang hidup bagi perfilman di Yogyakarta. Dinas Kebudayaan membentuk Seksi Perfilman yang bertugas mendorong iklim positif bagi perkembangan film indie di Yogyakarta. Mereka secara rutin menggelar kompetisi film siswa SMP dan SMA serta memberikan hibah dana ratusan juta untuk produksi film bagi naskah-naskah yang terpilih.

Yogyakarta sejak satu dekade lalu telah berkembang menjadi barometer perkembangan film indie tanah air. Di kota ini, festival film digelar dari tingkat lokal hingga internasional, dan menginspirasi kota-kota lain, seperti Solo dan Purbalingga.

Baca jugaKegilaan Anak Muda Yogya Membangun Startup Digital

Yang paling akbar dan selalu dinanti adalah Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) yang dimotori oleh sineas kenamaan asal Yogyakarta Garin Nugroho. Festival tahunan sejak 2005 ini merupakan satu-satunya di Indonesia yang digelar untuk mendukung perkembangan film di Asia. Tidak hanya sebagai tempat screening dan apresiasi film-film produksi negara-negara di Asia, festival ini juga menjadi ruang diskusi para sineas muda.

Tahun ini, JAFF ke-11 digelar 28 November - 3 Desember 2016 di Taman Budaya Yogyakarta. Dan seperti biasa, festival ini selalu penuh sesak oleh para pembuat, penikmat, dan kritikus film.

 
 

RELATED ARTICLES