FKY, Spirit Berkesenian dari Kota Budaya

 
 
 

Yogyakarta adalah kota budaya. Ada banyak sekali budayawan dan seniman besar yang lahir dari rahim kota ini. Affandi, siapa yang tidak kenal dengan sang pelukis maestro? Namanya bahkan diabadikan menjadi nama salah satu jalan protokol di kota ini.

Ada pula mendiang Bagong Kussudiardja sang koreografer tersohor, almarhum Umar Kayam, penari serba bisa Didik Ninik Thowok, juga Emha Ainun Nadjib dan masih banyak lagi budayawan yang hidup berkat atmosfer kebudayaan Kota Yogya.

Patah tumbuh hilang berganti, begitulah perumpamaan soal bertumbuhnya generasi baru para seniman dan budayawan di Yogyakarta. Kota ini senantiasa punya cara untuk tetap menjaga spirit kebudayaannya, salah satunya melalui agenda tahunan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY).

Digelar pertama kali pada tahun 1989, FKY dihelat bersamaan pembukaan Monumen Jogja Kembali atau orang Yogya biasa menyebutnya dengan Monjali. Setelahnya, FKY digelar secara rutin tiap tahun dengan tempat perhelatan yang berbeda-beda.

FKY pernah dihelat di Alun-alun Utara Keraton, kemudian pernah juga di Benteng Vredeburg, dan sekali di Pasar Ngasem, sebuah pasar yang menjadi pusat penjualan burung. Pada tahun 2016 kali ini, FKY digelar untuk ke-28 kali. Diselenggarakan selama 18 hari, mulai 23 Agustus sampai 9 September 2016 di Taman Kuliner Condongcatur Sleman.

FKY ini ibarat pelopor dari berbagai acara kesenian yang kemudian hadir di Yogyakarta. Berbagai agenda seni itu kemudian menjadi referensi dan standar penciptaan bagi para seniman. Sebut saja misalnya Yogyakarta Gamelan Festival, Art Jog, dan Jogjakarta Art Film Festival.

FKY_16

FKY_16

Seiring dengan pesatnya kemajuan ekonomi Kota Yogya dan semakin urbannya wajah kota ini, FKY tidak semata panggung bagi kesenian tradisonal, tapi juga menjangkau berbagai hal yang berbau kontemporer.

Hebatnya, event kesenian ini tak semata menjadi milik seniman, tapi juga seluruh warga Yogya dari berbagai penjuru. Mereka akan beramai-ramai terlibat dalam pawai besar yang dimulai Titik Nol Kilometer, kawasan yang berada di jantung kota ini. Warga kota akan berduyun-duyun menonton pawai pembukaan FKY.

Taman Kuliner Condongcatur yang sehari-harinya hanya ruang publik yang tak ramai dikunjungi, disulap menjadi pasar seni yang mampu menarik ribuan masyarakat, baik warga Yogya maupun wisatawan untuk datang melihat berbagai acara kesenian. Anak-anak dan orang tua pun turut menikmati event kebudayaan ini.

Di sini, kita bisa menyaksikan berbagai pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Asyiknya, kita bisa menontonnya sambil duduk lesehan, seperti layaknya panggung layar tancap. Tidak hanya menonton, kita bisa juga berbelanja berbagai produk seni nan kreatif dari para seniman Yogyakarta.

Salah satu yang menjadi favorit adalah Bioskop FKY yang menampilkan film-film pendek yang inspiratif sekaligus mengajak kita untuk berpikir. Yang tak kalah menarik adalah "panggung senyap". Disebut demikian karena kita menyaksikan dan mendengarkan pertunjukan audio cukup melalui headset. Berbagai macam penampilan mulai dari DJ, musik akustik, hingga musik eksperimental dapat didengarkan melalui headset tanpa harus mengganggu orang di samping kita. Interesting!

Foto: Dok.infofky.com

 
 

RELATED ARTICLES