Jajanan Kaki Lima Hingga Kelas Bintang Lima di Festival Kuliner Dunia

 
 
 

Soal kuliner, Yogyakarta memang tak ada matinya. Tak hanya kaya makanan tradisional seperti gudeg, brongkos, dan bakmi Jawa, kota ini juga punya festival makanan dari belahan dunia.

Festival Kuliner Dunia untuk pertama kalinya digelar di Yogyakarta selama lima hari, 6-10 Agustus 2016, di Jogja Expo Center. Event ini ternyata menjadi magnet wisata kuliner yang menarik minat pengunjung dari Yogyakarta dan kota-kota sekitarnya.

Cukup membayar tiket masuk Rp10.000, pengunjung bisa berkeliling untuk membeli dan menikmati jajanan dari 18 negara seperti Indonesia, Jepang, Korea, Cina, Suriname, Filipina, Thailand, India, dan Brasil. Semua yang dijajakan di sini dijamin enak, mulai dari jajanan kaki lima hingga kuliner bintang lima.

Soal harga, jajanan di festival ini masih cukup ramah di kantong. Bahkan beberapa booth menjajakan menunya lebih murah dari gerai makanan waralaba.

FOTO_VIA_klikkuliner.com

FOTO_VIA_klikkuliner.com

Salah satu stand yang menarik perhatian banyak pengunjung adalah Rio Brasil Churrascaria, ini adalah BBQ tradisional ala Negeri Samba. Penjual dan chef-nya orang Brasil asli yang kebetulan sedang studi di Indonesia.

Daging sapi, ayam, sosis, pisang, dan nanas di-grill di atas api, dibiarkan lama di atas panggangan, dan baru diangkat saat akan disajikan di meja. Makanan pun tiba di hadapan Anda dalam keadaan masih hangat.

Booth ini menyediakan picanha (sapi panggang), coracao (hati ayam panggang), salcisha (sosis panggang), dan sayap panggang. Harga sapi panggangnya Rp20.000, lebih murah dari harga steak lokal di Yogyakarta!

Daging sapi panggang disajikan bersama nasi dan kentang dalam mangkuk. Rasa picanha ini memang beda, tidak seperti daging sapi atau iga bakar yang biasa dijual di Indonesia.

Salah satu kekhasannya adalah cita rasa asam-segar dari vinaigrette;
semacam saus asam untuk dressing salad yang terbuat dari campuran minyak sayur dan vinegar (cuka) dari lemon atau anggur. Saus ini ditambahkan ke dalam mangkuk karena dipercaya bermanfaat menetralisir kandungan lemak pada daging.

FOTO_VIA_makankeliling.com

FOTO_VIA_makankeliling.com

Selain Brazilian Grill, booth lain yang tak kalah antri pengunjung adalah Manila Street Food, yang menjual makanan kaki lima di Filipina. Jajanan ini mirip dengan kuliner Indonesia, termasuk soal rasa yang memenuhi selera lidah orang Asia.

Booth ini menyediakan banana que (seperti satai pisang goreng), dan kamote que, yaitu satai yang terbuat dari umbi berlapis gula. Ada juga turon, seperti lumpia berbalut gula karamel yang di dalamnya berisi pisang dan nangka, mirip pisang karamel di Indonesia.

Bagi penyuka pedas, booth ini juga menjual lumpia pedas yang berbentuk mirip dinamit – panjang dengan tangkai cabai menyerupai sumbu. Bentuknya seperti lumpia pada umumnya, tetapi ukurannya lebih kecil dan berisi daging cacah. Yang membuatnya berbeda adalah cabai merah panjang yang ada di tengahnya. Cabai ini tak tampak dari luar, dan baru disadari saat menggigit lumpia.

Selain makanan dari mancanegara, festival ini juga menyajikan kuliner tradisional Indonesia, seperti nasi gurih, rica-rica ayam, bebek petir, serta tiwul dan sawut – keduanay merupakan makanan khas Gunungkidul berbahan singkong. Ada juga soto gerabah dari Solo, mendoan Banyumas, hingga aneka makanan khas Bali.

Selain makanan, ada minuman tradisional Jawa, seperti minuman wedang secang dan wedang uwuh yang terbuat dari campuran daun dan rempah, yang modern, ada juga minuman unik bohlam drink, yaitu sari buah di dalam botol berbentuk bohlam lampu.

Baca jugaGudeg Pawon, Menyantap Gudeg Langsung dari Dapurnya

Melihat animo pengunjung yang besar, penyelenggara festival kemungkinan akan menggelarnya kembali tahun depan dengan ragam kuliner yang berbeda. Tertarik untuk mampir?

Foto: Dok.makankeliling.com (foto 1), dok.klikkuliner.com (foto 2), pexels.com (foto 3 - foto utama)

 
 

RELATED ARTICLES