Tiga Hari Menikmati Festival Negeri Atas Awan

 
 
 
 

Berwisata ke negeri di atas awan? Sounds magical, indeed. Dan istilah ini sering dipakai jika Anda pergi ke Dieng atau Di-Hyang, salah satu destinasi yang kerap disebut "rumah para Dewa". Dieng merupakan dataran tinggi yang membentang di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, dan merupakan salah satu destinasi wisata Jawa Tengah selain Borobudur. Jaraknya sekitar 3 jam 30 menit dari Kota Yogyakarta.

Tandai kalender wisata Anda pada bulan Agustus karena setiap tahun di bulan ini, masyarakat setempat menggelar event wisata bertajuk Dieng Cultural Festival, yang memadukan antara keindahan alam pegunungan dan eksotisme budaya lokal. Sebaiknya pantau terus situs pemesanan tiket dan biro wisata karena festival ini selalu dipadati pengunjung, dan biasanya jumlah pengunjungnya melebihi kuota tiket yang disediakan panitia.

WISATA DIENG

WISATA DIENG

Yang menyenangkan, dengan merogoh kocek seharga Rp250.000, Anda bisa menikmati semua venue festival selama tiga hari. Setelah membeli tiket, pengunjung akan mendapatkan pass card yang wajib dipakai ke setiap acara, t-shirt, lampion kertas, dan kembang api. Jika kehabisan tiket, pengunjung harus membayar setiap kali masuk obyek wisata dengan akses venue acara yang sangat terbatas.

Festival tahun ini yang bertajuk The Soul of Culture menyajikan pagelaran Jazz Atas Awan, pesta kembang api dan lampion, Festival Film Dieng, pertunjukan seni, sunrise trekkingfun walking, kirab budaya, dan salah satu ritual tahunan yang ditunggu-tunggu; ritual ruwatan anak berambut gimbal.

RITUAL POTONG RAMBUT GIMBAL

RITUAL POTONG RAMBUT GIMBAL

Tahun ini, festival diadakan pada 5-7 Agustus lalu. Pada hari pertama, festival dibuka oleh penampilan Emha Ainun Nadjib dan Gamelan Kyai Kanjeng dari Yogyakarta. Malam harinya, digelar Jazz Atas Awan di pelataran Candi Arjuna – menyaksikan musik jazz di ketinggian 2.100 mdpl dengan suhu 2-5 derajat Celsius. Jaket, sarung tangan, dan penutup kepala adalah perlengkapan wajib untuk mencegah hipotermia.

Tak perlu khawatir kedinginan hingga tidak bisa mengikuti acara karena panitia juga menyediakan anglo – tungku api dari tanah – untuk menghangatkan badan, serta membagikan jagung dan kentang untuk dibakar sebagai teman menikmati alunan musik jazz. Plus, semuanya sudah termasuk dalam harga tiket!

Tahun ini jazz digelar dua malam berturut-turut. Malam pertama ada Tesla Manaf, Jessika Lokollo, Bulan Jingga, Five Percent, Glanze, dan GNFI featuring Dawai. Menjelang tengah malam, konser ditutup dengan pesta kembang api yang dinyalakan oleh setiap pengunjung.

Sedangkan di malam kedua, panggung jazz diisi Kikils, Jess Kidding, Secret Project, Absurd Nation, Kailasa dan Srinthil. Mantan vokalis Drive, Anji, tampil menjadi tamu kejutan. Puncak konser ini ditandai dengan penerbangan 5.000 lampion kertas ke udara oleh pengunjung. Hari kedua diawali dengan berburu sunrise. Sejak pukul 3.00 atau 4.00, pengunjung sudah harus berangkat menuju puncak Sikunir, Puncak Prau, Puncak Pakuwaja, atau Puncak Pangonan, jika tidak ingin terjebak macet dan menelan kekecewaan karena terlambat menyaksikan matahari terbit.

JAZZ ATAS AWAN

JAZZ ATAS AWAN

Salah satu spot terkenal adalah Sikunir di atas Telaga Cebongan, Desa Sembungan, yang memiliki panorama golden sunrise. Untuk mendaki bukit sejauh 800 meter itu butuh sedikit usaha, karena memiliki track yang lumayan terjal bagi pemula. Namun, setibanya di puncak, pemandangannya memesona – gradasi langit gelap yang tersingkap fajar dan lautan awan yang tak lebih tinggi dari kaki kita.

Paginya, pengunjung bisa mengikuti fun walking keliling kampung yang bermula dan berakhir di Gedung Suharto-Withlam. Acara jalan pagi ini ditutup dengan pembagian door prize dan minum purwaceng – tanaman pendongkrak stamina.

Sepanjang hari kedua, pengunjung bebas memilih aktivitas, apakah ingin menyaksikan panggung seni tradisional yang tersebar di beberapa venue, berkunjung ke candi-candi Hindu abad ke-8 tempat pemujaan para dewa, atau menikmati alam ke Telaga Warna dan Kawah Sikidang.

TELAGA WARNA

TELAGA WARNA

Baca jugaPesta Seni Rakyat di Festival Lima Gunung

Pada hari terakhir festival ini, digelar kirab budaya yang dilanjutkan dengan ritual Ruwatan Anak Bajang sebagai puncak festival. Acara ini didahului dengan pengarakan 11 anak berambut gimbal dengan kereta kuda, dan dilanjutkan pengambilan air suci di sumur Candi Dharmasala untuk upacara jamasan (pencucian) anak-anak berambut gimbal sebelum dipotong rambutnya.

Anak-anak itu kemudian di bawa ke Candi Arjuna, untuk upacara pemotongan rambut dipimpin oleh pemangku spiritual, Mbah Naryono. Dalam kepercayaan lokal, anak berambut gimbal dipercaya sebagai titisan Kyai Kala Dete dan Nini Ronce, leluhur suku Dieng. Jika rambut dipotong tanpa ritual khusus, si anak akan jatuh sakit dan mendatangkan bencana bagi keluarganya.

Pemotongan rambut ini juga dilakukan dengan syarat, yaitu orang tua harus mengabulkan apa yang menjadi permintaan anak. Jika tidak, rambut yang dipotong akan tumbuh gimbal kembali. Hari itu, ada yang meminta sepeda, boneka, laptop, buah durian, hingga sepasang kucing, yang ikut dibawa dalam ritual. Sebagai penutup acara festival, diadakan pelarungan rambut gimbal ke Telaga Warna.

Ketinggalan untuk mengikuti festival ini? Jangan khawatir, festival ini digelar tahunan, kok. Nantikan tahun depan!

Foto: Dok.Dieng.id (foto 1), dok. wisatadiengplateau.com (foto 3), dok. Ari Susanto

 
 
 

RELATED ARTICLES