Kasongan, Desa Wisata dan Sentra Gerabah Yogyakarta

 
 
 
 

Bantul, kabupaten di selatan Yogyakarta ini kaya akan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang bergerak di bidang kerajinan. Salah satu yang menjadi ikon ekonomi dan wisata adalah sentra industri gerabah di Kasongan, yang berjarak sekitar 7 kilometer atau 20 menit dari Kota Yogyakarta.

Kasongan terletak di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul. Dari Yogyakarta, Anda bisa menuju ke desa wisata itu melalui Jalan Bantul ke arah selatan, sampai menemukan gerbang Kasongan berupa gapura besar berwarna merah yang diapit dua buah patung kuda.

Di sepanjang jalan, terlihat deretan showroom yang memajang gerabah yang siap jual, dari mulai pot cantik, guci, dan aneka suvenir dari tanah liat. Dari jauh tampak kepulan asap dari rumah-rumah pembakaran dan workshop, tempat gerabah tersebut diproduksi.

Gerabah Kasongan punya sejarah panjang dan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17. Lokasi yang sekarang menjadi rumah bagi lebih dari 400 UKM ini dulunya merupakan tempat kundi atau gundi, yaitu para pembuat kendi, kuali, dan semua jenis peralatan dapur dari tanah liat.

Sejak tahun 1970-an seniman kenamaan Yogyakarta Sapto Hoedoyo memperkenalkan sentuhan seni pada gerabah Kasongan untuk menaikkan nilai estetik. Ia mengajari para perajin membuat karya seni bernilai ekonomis, bukan sekadar produk massal yang monoton.

Kasongan kemudian berkembang menjadi sebuah desa wisata. Gerabahnya semakin halus, rumit, dan bercita rasa seni. Produknya tidak hanya diburu para wisatawan lokal, tetapi juga para pelancong mancanegara yang mencari suvenir unik dari Yogyakarta.

Seiring dengan meningkatnya ketrampilan pengrajin, UKM di Kasongan menerima pesanan dari kolektor, seperti guci dengan motif burung burung, ikan, dan naga, lampu taman, pancuran, juga patung. Beberapa pengrajin juga melayani desain sesuai permintaan konsumen, misalnya gerabah bermotif antik atau patung dengan desain kontemporer.

Pasar gerabah Kasongan pun meluas hingga ke luar negeri, terutama Amerika, Eropa, dan Australia. Para perajinnya menikmati keuntungan dari ceruk pasar ekspor kerajinan tanah liat ini.

Salah satu yang paling banyak diminati adalah patung gerabah Loro Blonyo, yaitu patung sepasang pengantin laki-laki perempuan berpakaian gaya Yogyakarta yang sedang duduk. Ukurannya variatif, dari yang seukuran hiasan meja hingga sebesar manusia.

Di Yogyakarta, patung ini kerap dijumpai di lobi hotel, museum, galeri, dan rumah makan. Ada pula yang di pasang di samping kanan-kiri pintu rumah karena konon dipercaya mendatangkan keberuntungan.

Ada dua jenis gerabah yang diproduksi di Kasongan yaitu suvenir, dari mulai hiasan patung mini hingga celengan, dan perabot rumah untuk interior dan eksterior. Perabot yang paling banyak dicari adalah kendi dengan beragam bentuk. Kendi dari Kasongan ini murah, namun kualitasnya cukup bagus sebagai pendingin alami air minum.

Pembuatan gerabah di Kasongan meliputi beberapa tahap yaitu pengolahan bahan baku, pembentukan gerabah, pengeringan, pembakaran, dan pengecatan. Proses dari tanah menjadi gerabah yang siap dipasarkan memakan waktu 2 hingga 4 hari.

GERABAH

GERABAH

Bahan baku gerabah adalah tanah liat yang sudah diolah. Lempung dari sawah tidak bisa langsung digunakan, melainkan harus dicampur lebih dulu dengan tanah merah dan pasir. Ketiga bahan itu digiling sampai benar-benar tercampur secara merata, kemudian dibagi dalam ukuran bola-bola besar.

Cara Membuat:

  • Pembuatan gerabah dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cetakan dan dengan tangan. Metode cetakan digunakan untuk produksi massal dengan bentuk dan ukuran seragam, sementara metode tangan dipakai untuk membuat gerabah yang memiliki pola lingkaran, seperti pot, vas, guci, kendi, dan kuali.
     
  • Cara yang kedua ini membutuhkan keterampilan tangan untuk membentuk gerabah yang halus. Tanah liat ditaruh di atas meja putar berbentuk lingkaran. Sembari meja diputar searah jarum jam, kedua tangan perajin membentuk tanah menyerupai mangkuk sebelum dikembangkan menjadi bentuk yang diinginkan. Sesekali, tangan membasahi tanah liat dengan air untuk melunakkan tekstur agar lebih mudah dibentuk.
     
  • Untuk pembuatan gerabah yang ukurannya besar atau tinggi, seperti guci, prosesnya dilakukan beberapa kali. Pengrajin membuat dasarnya lebih dulu, kemudian dikeringan, baru menambahkan kembali tanah liat di atasnya dan diputar lagi di atas meja. Beberapa desain hanya dibisa dibuat dengan tangan melalui teknik menempel, misalnya bentuk naga yang membelit guci.
     
  • Setelah selesai, gerabah yang masih basah dijemur di bawah matahari sampai kadar airnya hilang. Gerabah kemudian dibakar selama sepuluh jam dengan cara tradisional menggunakan jerami atau cara modern dengan tungku pembakaran untuk menghasilkan panas yang merata. Tujuannya, agar gerabah tidak mudah pecah.
     
  • Proses terakhir adalah finishing dengan menggunakan cat atau pernis untuk mempercantik tampilan. Setelah itu, gerabah siap dipajang di showroom untuk dijual.


Semua proses dikerjakan sendiri oleh para pengrajin di desa itu untuk memastikan kualitas gerabahnya terkontrol. Misalnya, campuran bahan tanah liat yang kurang tepat atau pembakaran pada suhu yang kurang panas akan menyebabkan gerabah mudah retak atau pecah.

Harga gerabah Kasongan berkisar dari puluhan hingga ratusan ribu, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan desainnya. Jika Anda berniat membeli gerabah Kasongan yang ukurannya besar tetapi kesulitan membawanya pulang karena takut retak atau pecah, beberapa pengrajin memberikan layanan pengiriman barang agar aman sampai rumah Anda.

Di Kasongan, Anda tidak hanya bisa berjalan-jalan sambil berbelanja, tetapi juga bisa melihat proses pembuatan kerajinan berbahan lempung itu. Jika tertarik, Anda pun bisa belajar membuat gerabah di rumah produksi - membuat pot, vas, atau kendi.

Sejumlah workshop di Kasongan menawarkan paket wisata belajar membuat gerabah sehari dari mulai pembentukan sampai selesai. Informasi ini biasanya tersedia di showroom, atau bisa Anda tanyakan langsung kepada pengrajin.

Tetapi, bagi Anda yang sekadar ingin mencoba membuat gerabah dengan meja putar, seperti dalam salah satu film legendaris Hollywood; Ghost, biasanya para pekerja dengan senang hati akan mengajarkan dengan gratis, asalkan Anda bersedia untuk sedikit berkotor-kotor dengan tanah. Tertarik mencoba?

Foto: Dok. Ari Susanto

 
 
 

RELATED ARTICLES