Ecotourism: Menyelamatkan Populasi Penyu di Pantai Selatan Yogyakarta

 
 
 
 

Pariwisata berbasis ekologi dan konservasi atau ecotourism merupakan salah satu wisata minat khusus di tanah air. Wisatawan tidak hanya menikmati alam, tetapi juga diajak untuk ikut berkontribusi dalam pelestarian lingkungan, terutama satwa dan tumbuhan.

Di Kabupaten Bantul, di selatan Kota Yogyakarta, sekelompok anak muda membentuk komunitas konservasi Relawan Banyu – dulu bernama Jaringan Relawan Peduli Penyu Bantul – yang salah satunya bekerja untuk membantu meningkatkan populasi penyu di pantai selatan. Mereka memadukan kampanye lingkungan dan promosi wisata bahari.

Pada setiap musim penetasan telur sekitar pertengahan tahun, sekitar Juli-Agustus, relawan mengajak para wisatawan untuk bergabung melepas tukik (anak penyu) ke samudra, dengan harapan satwa mungil ini dapat bertahan hidup dan berkembang biak di habitatnya.

Wisatawan juga diajak untuk peduli konservasi, dengan cara tidak mengonsumsi telur dan daging penyu – konon daging penyu dikonsumsi untuk mendongkrak vitalitas – dan membeli kerajinan yang berbahan karapas (cangkang) penyu. Upaya ini untuk mendorong kesadaran masyarakat agar ikut berpartisipasi mencegah kepunahan penyu.

Menurut Koordinator Relawan Banyu, Ferry Munandar, penyu masih kerap diburu terutama oleh nelayan. Banyak yang tersangkut jaring perahu atau pancing, tetapi tidak dilepas kembali, dan malah dibawa pulang untuk dikonsumsi dagingnya.

Padahal menangkap, memelihara, dan memperdagangkan semua jenis penyu bisa dijerat oleh UU Konservasi, karena penyu merupakan satwa yang dilindungi negara. Selain itu, reptil bercangkang ini berstatus endangered (hampir punah) berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Selain perburuan dan perdagangan ilegal, penyu juga mengalami ancaman lain dari manusia, yaitu sampah laut yang berasal dari aktivitas wisatawan. Dan bahayanya, plastik sering menjadi penyebab kematian penyu di laut. Dalam banyak kasus, di dalam perut penyu mati ditemukan kantong plastik.

PENYU-1

PENYU-1

“Penyu tidak bisa membedakan ubur-ubur dan plastik di dalam air. Mereka memakannya, lalu tak lama kemudian mati karena plastik tidak bisa dicerna,” ujar Ferry beberapa waktu lalu.

Karenanya, Relawan Banyu juga mengajak para wisatawan untuk peduli terhadap kebersihan pantai, dan tidak membuang sampah di laut. Bukan hanya berdampak bagi penyu, sampah laut juga akan mencemari ekosistem air dan membunuh fauna laut lainnya.

Pantai selatan, terutama Bantul, merupakan salah satu tempat favorit bagi penyu untuk bertelur setiap tahun. Sementara, pantai-pantai berpasir putih di wilayah karst di Gunungkidul merupakan tempat penyu mencari makan karena di wilayah ini kaya akan ubur-ubur kecil yang menjadi santapan utama penyu.

Di Gunungkidul, jumlah penyu yang bersarang di pantai semakin menurun karena terdesak oleh ramainya aktivitas pariwisata. Beberapa waktu lalu, pemerintah daerah menutup sejumlah pantai kecil karena masih ditemukan jejak dan sarang penyu dan menjadikannya pantai konservasi.

Dari tujuh spesies penyu yang hidup di dunia, empat di antaranya kerap naik untuk bersarang di pesisir Bantul, seperti di Pantai Samas, Pelangi, dan Goa Cemara. Keempat jenis itu adalah penyu lekang, penyu belimbing, penyu hijau, dan penyu sisik. Namun, saat ini yang paling sering ditemukan telurnya adalah penyu lekang.

Pada bulan Mei-Agustus, mereka naik ke darat untuk meletakkan telur-telurnya. Kemudian meninggalkannya tertimbun dalam pasir hitam yang hangat selama kurang lebih 50 hari sampai mereka menetas dan kembali ke masuk ke laut. Di samudra, penyu-penyu itu dapat hidup dan menjelajah ribuan kilometer, kemudian menuju kembali ke pantai tempat mereka berasal untuk bertelur.

Sayangnya, tingkat hidup telur penyu cukup rendah. Jika tidak dimangsa burung-burung laut yang beterbangan di atas penyu yang sedang bertelur pada malam hari, telur-telur itu akan dicuri manusia untuk dijual. Sedangkan jika mereka aman sampai menetas, tukiknya akan menjadi santapan predator alami di air. Diperkirakan, dari puluhan hingga ratusan telur, hanya kurang dari satu persen yang bisa bertahan hidup menjadi penyu dewasa.

Di Pantai Samas, Bantul, terbentuk forum konservasi penyu yang digagas oleh seorang nelayan, Rujito, dan di bawah pengawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Nelayan penerima Kalpataru berkat kepeduliannya pada reptil laut itu mengembangkan situs penyelamatan penyu dengan membuat pot-pot penetasan telur dan kolam adaptasi.

Pada musim bertelur, ia rajin berpatroli pada malam hari untuk mencari penyu yang bersarang. Setelah ditinggal pergi induknya kembali ke laut, telur-telur itu diambilnya dan dipindahkan ke pot-pot inkubator berisi pasir dan didiamkan selama 50 hari. Cara ini dilakukan agar telur-telur itu selamat dari perburuan binatang dan manusia.

“Di sini, jumlah telur yang menetas 95 persen. Karena tidak ada gangguan dari luar,” kata Rujito.

PENYU-2

PENYU-2

Setelah menetas, telur tukik dipindahkan ke kolam yang dialiri air laut hingga mencapai usia satu hingga dua minggu sebelum tukik-tukik ini dilepaskan ke pantai. Sudah lebih dari 10.000 ekor tukik yang pernah dilepas Rujito bersama wisatawan.

Sejak 2014, Rujito membangun situs konservasi yang baru akibat abrasi gelombang laut menghancurkan situs yang lama. Ia mendapat bantuan dari seorang wisatawan asal Belanda, pasangan suami-istri Hendrik Voss dan Nelly Simons, yang mendanai pembangunan kolam tukik. Keduanya memberi donasi karena terkesan oleh upaya Rujito dan kawan-kawan dalam melestarikan penyu.

Namun bagi Anda wisatawan yang peduli dengan penyu, tidak harus membuat kolam seperti Hendrik, tetapi sudah cukup membantu dengan tidak mengotori pantai dengan sampah, terutama plastik.

Tetapi jika Anda tertarik untuk berpartisipasi dalam wisata konservasi dan pelepasan tukik, Anda bisa datang ke Pantai Pelangi atau Pantai Goa Cemara, di Bantul, sekitar 30 kilometer dari Kota Yogyakarta. Pantai Pelangi terletak di Jalan Parangkusumo, tak jauh dari Pantai Parangtritis, sedangkan Pantai Goa Cemara berada di sebelah barat Pantai Samas.

Sekitar awal Agustus adalah musim menetas telur penyu di kedua pantai tersebut, sehingga bulan ini merupakan waktu yang tepat untuk pelepasan tukik. Donasi untuk konservasi dan pelepasan tukik tidak ditetapkan jumlahnya (sukarela).

Tentang jadwal, teknis, dan lainnya, silakan menghubungi Koordinator Relawan Banyu, Ferry Munandar (081-567-389-99 / 081-227-828-999).

Foto: Pixabay.com

 
 

RELATED ARTICLES