Festival Gamelan, dari Yogyakarta untuk Dunia

 
 
 

Sebagai pewaris peradaban dan kebudayaan Dinasti Mataram, Yogyakarta kaya dengan warisan masa lalu, salah satunya adalah gamelan, musik tradisional yang identik dengan gending dan karawitan. Dalam bahasa Jawa kuno, gamelan berarti alat musik pukul atau perkusi.

Namun, di tangan seorang maestro dan komposer gamelan asal Yogyakarta, Sapto Rahardjo, gamelan menjadi ikon musik Kota Gudeg yang kini dikenal di dunia. Sapto mengambil terobosan untuk memopulerkan gamelan sebagai instrumen universal yang bisa dimainkan siapa saja, di mana saja, melampui zaman dan melewati batas etnis.

Ia mengubah stigma gamelan identik sebagai musik kuno yang hanya bisa dimainkan dengan pakem (aturan) tertentu. Setiap orang bisa memainkan gamelan dengan caranya masing-masing. Baginya, gamelan adalah spirit, bukan obyek, dan instrumennya hanya merupakan medium.

Sapto kemudian mengeksplorasi bunyi-bunyi gamelan lewat perangkat komputer dan menjadikan musik ini semakin menyatu dengan perkembangan zaman. Gamelan menjelma menjadi instrumen yang bisa dimainkan untuk jazz, rock, pop, dan semua jenis aliran musik.

Salah satu karya besar Sapto adalah Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) yang tahun kini sudah digelar ke-21 pada 22-24 Juli 2016 di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri Universitas Gadjah Mada. Festival inilah yang mengenalkan gamelan dengan “rasa baru”, mengombinasikan gamelan dengan alat musik lain dari belahan dunia.

Sang maestro sudah berpulang pada 2009, tetapi gaung semangatnya terus hidup dan diwarisi oleh generasi berikutnya, salah satunya Komunitas Gayam 16; sekelompok anak muda yang terus melestarikan gamelan dengan menyelenggarakan YGF. Festival tahunan itu tidak hanya menarik minat para musisi lokal, tetapi juga dari mancanegara. Banyak warga dunia yang mahir memainkan gamelan melebihi orang Indonesia.

Ron Reeves salah satunya, musisi Australia yang jago sekali bermain kendang Sunda, beberapa kali turut memeriahkan festival ini. Pada YGF ke-10 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta. Ia bersama dua rekannya; Kim Sanders dan Blair Greenberg memainkan musik gamelan sufistik, dengan perpaduan suling Turki. Ada juga Motohide Taguchi, musisi asal negeri Sakura, mengeksplorasi demung dan bonang – dua jenis instrumen gamelan – untuk menampilkan musik pendek gagaku yang biasa dimainkan di kuil atau istana di Jepang.

Festival tahun ini tak kalah seru, menampilkan musisi muda dari Meksiko, Victorhugo Hidalgo. Victor, yang seorang penganut Budha, tidak hanya mempelajari gamelan, tetapi juga filosofi masyarakat Jawa tentang seni dan religi. Bersama Sean Hayward feat SriMara World Music Collective dan kawan-kawan, menyajikan musik gamelan yang digarap dengan konsep teatrikal dengan tembang “Sesajen dalam Mahakala”. Berkostum baju hitam dengan bawahan jarik, mereka memainkan gender barung dan siter dipadu dengan flute dan gitar akustik.

Festival juga dimeriahkan oleh Kontra-GaPi dari Filipina dan David Kotlowy dari Australia. Dari dalam negeri ada Keraton Kawitan Amertha Bumi dari Kendal, Tarara dari Bangkalan, Madu Sekar dari Pamekasan, serta Genta Sawitri Saraswati, Canda Nada, dan Pradangga Sawo Kembar – ketiganya dari Yogyakarta.

Kontra-GaPi juga menggelar workshop tentang musik gamelan kontemporer Filipina. Mereka berbagi tentang mixing and matching instrumen gamelan, desain bunyi dan suara untuk kompisisi inovatif.

Tahun 2016 ini YGF mengusung sesuatu yang baru setelah dua dekade penyelenggaraannya, yakni berkolaborasi dengan seniman muda Farid Stevy Asta sebagai pembuat ilustrasi yang akan mengangkat festival dalam bentuk visual untuk para pencinta gamelan yang tersebar di dunia.

Sedikitnya ada 31 negara yang memiliki grup musik gamelan, baik yang klasik maupun kontemporer. Di antaranya adalah Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Australia, Jerman, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Rusia. Secara bergiliran, mereka rutin mengikuti YGF untuk bertukar gagasan tentang masa depan gamelan, terutama di negara mereka masing-masing.

Dan jika Anda penyuka musik, YGF adalah event yang tepat untuk sekadar menonton pertunjukan, atau ikut terlibat dalam diskusi panjang tentang gamelan.

Foto: Dok. Komunitas Gayam

 
 
 

RELATED ARTICLES